Mengenal Teknologi Pembuatan dan Pemeliharaan Embung

oleh
Fungsi pokok embung adalah kolam pemanenan air hujan untuk keperluan pertanian. Dok: Tugi.

Di Gunungkidul embung nampaknya lebih dominan sebagai tempat berwisata daripada sebagai salah satu prasarana pertanian. Embung telah demikian populer sebagai tempat yang asyik untuk berekreasi, berfoto bareng-bareng atau berfoto selfi, seperti Embung Nglanggeran, Embung Sriten, Embung Gunung Panggung, dan lain-lainnya.

Sesungguhnya, embung adalah tandon air atau waduk berukuran kecil pada lokasi pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan saat musim penghujan dan pemanfaatannya pada musim kemarau untuk berbagai keperluan baik di bidang pertanian maupun kepentingan masyarakat banyak. Pembuatan embung pada dasarnya adalah untuk kepentingan pertanian. Air yang tertampung pada embung digunakan untuk mengairi lahan pertanian terutama pada musim kemarau.

Manfaat lain dari embung adalah di bidang perikanan yang bisa dijadikan untuk kolam pemeliharaan ikan dan sebagai persediaan minuman ternak maupun untuk keperluan rumah tangga.

Irigasi dan Tadah Hujan

Di Indonesia terdapat dua wilayah agraris yang sangat menonjol, yaitu daerah pertanian dengan ketersediaan air irigasi yang cukup melimpah dan daerah pertanian yang hanya bergantung pada air hujan dari langit yang disebut sawah tadah hujan. Pesatnya pembangunan di berbagai sektor membawa konsekuensi semakin lama semakin berkurang lahan pertanian dengan irigasi, bahkan ada banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman.

Lahan pertanian semacam ini adalah merupakan lahan potensial untuk pertanian yang dapat menghasilkan pangan untuk kehidupan manusia. Guna mengganti lahan tersebut, maka diperlukan adanya penambahan lahan pertanian baru. Pada umumnya, lahan pertanian yang baru yang bisa mengganti keadaan seperti ini adalah lahan sawah tadah hujan.

Di Gunungkidul, dari 1.485 km2 atau 148.500 ha luas wilayah keseluruhan, tercatat hanya 2.190 ha atau 1,5% berupa lahan sawah dengan irigasi teknis, kemudian seluas 5,685 ha atau 3,8% berupa lahan sawah non irigasi atau sawah tadah hujan. Selebihnya merupakan lahan pertanian perladangan yang benar-benar bertumpu hanya pada datangnya air hujan.

Lahan tadah hujan sebenarnya potensial untuk menghasilkan padi, tetapi kendalanya adalah adanya faktor pembatas yang berupa air. Pada musim kemarau petani sangat kesulitan air karena cadangan air terlalu minim, sehingga menyebabkan rendahnya produksi pertanian dan bahkan kadang kala tidak menghasilkan sama sekali karena kekeringan.

Embung sederhana dari terpal dibuat secara swadaya para petani tembakau di Kabupaten Rembang. Dok: Ahlitani.com

Membangun jaringan irigasi pada lahan tadah hujan memerlukan biaya yang sangat besar. Salah satu teknologi yang murah dan terjangkau untuk mengatasi ha tersebut adalah dengan teknologi pembuatan embung. Teknik pembuatan embung meliputi penentuan tekstur tanah, kemiringan lahan, bentuk, ukuran penggalian tanah, kelapisan tanah, kelapisan plastik, penembokan dan pelapisan kapur.

Kata embung menurut penelusuran sejarah berasal dari bahasa Nusa Tenggara Timur. Embung secara keseluruhan dapat diartikan suatu tandon air atau waduk kecil pada lahan pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dan menggunakannya pada saat musim kemarau untuk berbagai keperluan baik dibidang pertanian maupun rumah tangga.

Teknik Pembuatan Embung

Teknik pembuatan embung sebenarnya boleh dikatakan sangat sederhana. Ada beberapa hal sederhana yang perlu diperhatikan, antara lain:

A. Penentuan Lokasi

1. Tekstur Tanah

  • Embung sebaiknya dibuat pada lahan dengan tanah bertekstur liat, lempung, liat berlempung dan lempung liat berdebu, agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi.
  • Pada tanah berpasir yang porous tidak dianjurkan untuk pembuatan embung, karena air akan cepat meresap kedalam tanah dan hilang. Apabila terpaksa dibuat, maka dianjurkan untuk memakai plastik atau ditembok lapisan luarnya sehingga air tidak merembes.

2. Kemiringan Lahan

  • Embung sebaiknya dibuat pada areal pertanian yang bergelombang dengan kemiringan antara 20- 30 persen agar lapisan air permukaan dapat dengan mudah mengalir ke dalam embung dan selanjutnya air embung mudah untuk disalurkan ke petak-petak pertanian, karena adanya perbedaan ketinggian antara embung dengan petak pertanian.
  • Areal pertanian yang datar kurang cocok untuk dibuat embung , karena sulit untuk mengalirkan air dari embung ke petak pertanian.
  • Pada lahan yang terlalu miring kurang lebih 30 persen embung akan cepat penuh dengan endapan tanah karena pengaruh erosi.

B. Kontrusksi Embung

1. Bentuk Embung

  • Bentuk embung sebaiknya bujur sangkar atau mendekati bujur sangkar. Hal ini agar diperoleh keliling yang paling pendek. Tujuannya agar resapan air melalui tanggul lebih sedikit.

2. Ukuran Embung

  • Embung bisa dibuat berdasarkan perorangan maupun kelompok. Hal ini tergantung daripada keperluan dan luas pertanian yang akan diairi.

3. Penggalian Tanah

  • Penggalian tanah dapat dimulai dari batas pinggir embung menuju ke bagian tengah.
  • Kedalaman galian diusahakan mencapai 2-3 meter. Hal ini untuk memperoleh kapasitas embung
  • Keliling embung dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah hal ini untuk menghindari masuknya kotoran ke dalam embung.
  • Jarak saluran pembuangan dari permukaan tanggul berkisar antara 25-50 cm dan dibuat sedemikian rupa sehingga air embung tidak meluap.

4. Pelapisan Tanah

  • Untuk menjaga agar embung tidak bocor, maka perlu dilakukan pelapisan tanah terutama pada bagian dinding embung. Pelapisan dinding ini dilakukan dengan cara tanah liat dibasahi dan diolah sampai berbentuk seperti pasta, baru kemudian dilapiskan secara merata.
  • Dinding embung pada tanah bertekstur liat atau lempung liat berdebu tidak perlu dilapisi, karena pada jenis tanah ini resapan air boleh dikatakan kurang.
  • Pada tanah berpasir resapan air kebawah maupun yang melalui tanggul cukup banyak, karena itu dinding embung perlu dilapisi dengan beberapa bahan misalnya: plastik, batu bata, tembok, atau campuran pasir dengan tanah liat untuk penahan resapan air.

5. Pelapisan Plastik

  • Plastik yang digunakan untuk pelapisan dinding maupun dasar embung dapat digunakan dari jenis polyethilin atau polyvinil chloride (PVC) dengan ketebalan 0, 15 mm.
  • Untuk pelapisan di dasar embung , plastik ditimbun tanah setebal kurang lebih 25 cm.
  • Ketahanan plastik ini bisa mencapai 2-3 tahun.

6. Penembokan

  • Pencegahan peresapan air selain dengan plastik dapat pula digunakan dengan penembokan baik untuk dinding maupun untuk dasar embung.

7. Pelapisan Kapur

  • Untuk pelapisan dengan kapur dibuat adonan dengan perbandingan kapur tembok dan tanah liat sebesar 1:1.
  • Dibuat pasta yang selanjutnya baru dilapiskan pada dinding embung atau dasar embung.

Manfaat Embung

1. Air Embung

Pada prinsipnya air embung digunakan untuk mengairi lahan terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan air pada musim kemarau perlu juga memperhatikan luasan lahan dengan ketersediaan air yang ada didalam embung. Apakah untuk mengairi sawah atau palawija dengan memperhitungkan kebutuhan air sebagai misal untuk padi 200 mm per bulan atau 1 liter/detik/ha. Disamping itu juga perlu diperhatikan jika embung juga untuk persediaan minuman ternak

2. Pengairan Padi dan Palawija

Pengairan dari embung untuk padi dan palawija tidak sepenuhnya menggunakan air, hanya dilakukan pada saat kritis, yaitu pada fase primordial (bunting), Pembungaan dan pengisian gabah. Saat ini air disalurkan ke petak pertanian bisa menggunakan selang plastik hingga kondisi tanah jenuh air. Untuk tanaman palawija caranya dengan menyiram seputar pangkal tanaman, mengingat ketersediaan air di embung terbatas. Sebaiknya perlu diketahui kebutuhan dari masing-masing jenis palawija akan air per musim atau per hektarnya

3. Peternakan

Pada musim kemarau ada kalanya sulit untuk mendapatkan air untuk minuman ternaknya dan harus diangkut dari tempat yang jauh. Dengan adanya air embung ini dapat digunakan untuk memberi minuman ternaknya

4. Perikanan

Khusus di bidang perikanan, embung dapat dimanfaatkan pada musim hujan maupun musim kemarau, dengan catatan untuk musim kemarau ketersediaan air harus cukup. Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan jika embung digunakan untuk pemeliharaan ikan adalah: curah hujan, penguapan, tekstur tanah, kontruksi kolam dan mutu air yang ada diembung.

Untuk mutu air sendiri perlu juga diperhatikan tentang oksigen terlarut dan ammonia. Jenis ikan untuk embung perlu dipilih yang tepat dan sesuai dengan kondisi embung, yang pada dasarnya serba terbatas, yaitu air yang menggenang. Jenis ikan yang cocok, yaitu gurame , mujair, tawes, dan lele.

Untuk pakannya dapat berupa dedak, sisa makanan atau pellet serta tanaman-tanaman seperti daun talas.

Teknik Pemeliharaan Embung

Pemeliharaan embung perlu dilakukan agar tetap bermanfaat dan terhindar dari kerusakan dini. Pemeliharaan ini antara lain dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Pemagaran embung dengan bambu atau pagar hidup.
  • Pengangkatan lumpur yang dilakukan pada musim kemarau atau ketika volume air sudah minimal dan tidak digunakan.
  • Perbaikan embung terutama untuk bagian dinding tanggul jika terjadi kerusakan segera diperbaikai agar tidak berlarut-larut dan bertambah parah.
  • Untuk mencegah jebolnya tanggul, usahakan agar air tidak melimpah di permukaan tanggul.
  • Usahakan tidak menggembalakan, memandikan dan memberikan minuman ternak diatas tanggul maupun masuk kedalam area embung.

Sementara itu, untuk menekan kehilangan air karena penguapan (evaporasi), maka dapat dilakukan penanaman sebagai berikut.

  • Anjang-anjang atau tanaman penutup/peneduh dimana tiang anjang dibuat dari anyaman bambu.
  • Pada anjang-anjang yang dibuat ini dijalarkan tanaman merambat yang bermanfaat, seperti tanaman kecipir, markisa, gambas, yang juga berfungsi sebagai penutup permukaan air.
  • Pohon penahan angin juga diperlukan di sekitar embung, seperti pohon buah-buhan atau rumput-rumputan untuk pakan ternak.

***

Referensi: Agus Maryono dalam Buku Memanen Air Hujan dan Makalah Embung Balai Penyuluhan Pertanian Kaliori Banyumas.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.