“Mulanira”: Meraba dan “(Me)niteni” Rupa-rupa Mula Gunungkidul

oleh
"Podhang Ngisep Sari", karya Suyidno
"Podhang Ngisep Sari", karya Suyidno

 

Mengingat “mulanira” dapat digunakan sebagai
pertimbangan dalam pengambilan sikap dan kebijak(sana)an
demi menciptakan harmoni kehidupan.
— Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG)

 

Malam itu, sabtu 12 Juli 2019, kurang lebih pukul 20.30 malam, karena pembagian waktu saya yang timpang, saya agak terlambat datang di halaman sebuah ‘ruang-pamer’ bernama Eks Kecamatan, tepatnya di sisi-barat jalan di sisi-selatan Kantor Pos Wonosari, sementara titi-laksana pembukaan acara telah dimulai. Meskipun terlambat ternyata saya tak ketinggalan jalannya prosesi acara-pembukaan karena ‘baru saja dimulai’. Kata si empu-nya gawe: acara malam itu merupakan “ruang ragam interaksi” antar para perupa dan atau antara para perupa dengan para keluarga Gunungkidul non-Gunungkidul lebih luas, berjudul: Pameran Seni Rupa “Mulanira”, dalam rangka Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) di Gunungkidul, berlangsung 13-20 Juli 2019; dipajang dalam sajian-visual berbentuk teks tulisan tangan (warna-putih) pada papan-persegi berlatar warna merah menyala, di sisi atas papan-persegi diberi rerenggan payon-pendhapan (menyerupai pendhapan di gunungan wayang).

Di acara-pembukaan pameran bertempat di ruang ‘eks-kecamatan’ yang tampak terbengkelai dan tak terurus itu (tak ada toilet yang layak) saya hadir sebagai penonton. Karena sebagai penonton, maka kala melakukan aksi ‘menonton’ saya mencoba untuk mengamati dan meraba-raba apa-apa dan siapa-siapa yang saya-tonton. Setelah menonton saya berkomentar. Saya komentator. Tentu  tandang-gawenonton-komentar-saya ini hanya menggunakan kapital-saya yang sekadarnya.

Saya awam seni-rupa; saya awam dunia perupa; saya awam perupa Gunungkidul.

Melihat judul “Mulanira” yang dipilih oleh para perupa, sekali lagi sebagai penonton awam, saya hanya bisa mengira-meraba bahwa “mulanira” mewartakan dua-kata: {mula} dan {sira}, atau {mula} dan {ira}, atau {mula} dan {nira}. Jika “mulanira” berasal dari {mula} dan {sira}, maka fonem [n] dalam penggabungan keduanya muncul sebagai alomorf; [n] berfungsi melesapkan dan menggantikan keadaan fonem [s] pada {sira}. Secara leksikal, {sira} bermakna ‘kamu’ (Orang II) atau ‘dia, mereka’ (Orang III). Jika “mulanira” berasal dari {mula} dan {ira}, maka kemunculan fonem [n] berfungsi memperlancar proses penggabungan keduanya untuk keperluan tuturan. Secara leksikal, {ira} bermakna ‘kamu’ (Orang II) atau ‘dia, mereka’ (Orang III) pula. Dan jika “mulanira” berasal dari {mula} dan {nira}, maka secara leksikal {nira} bisa bermakna sama dengan {ira} dan {sira}, yaitu kata ganti personal ‘kamu’ dan ‘dia, mereka’. Namun {nira} juga memiliki makna lain: kata-ganti-milik “nya”. Sementara itu {mula}, secara leksikal, berarti asal-usul, asal-mula, awal, yang-awal, yang-purwa, atau dalam Bahasa Jawa sejajar maknanya dengan wiwitan atau mula-buka. Secara semantik, setelah dua kata itu bergabung (ndhapuk), maka bisa memunculkan makna: ‘asal-usulmu’ atau ‘awalmu’, atau ‘asal-usulnya’ atau ‘awalnya’. Seringnya, kata {mula} hadir dalam perulangan-kata: {mula-mulanira}, bermakna sama: ‘asal-usul’, atau ‘asal-mulanya’. Jadi, karena saya penonton (Orang II: Kamu) bagi para perupa Gunungkidul yang sedang pamer karya (Orang I) berjudul “Mulanira” itu, maka {sira} atau {ira} atau {nira} bisa saya anggap: tertuju pada saya (Orang II: Kamu) atau keluarga Gunungkidul lain yang sedang menonton atau tidak menonton bahkan keluarga non-Gunungkidul (Orang III: Dia, Mereka), sehingga {mulanira} bermakna ‘asal-usulmu’ (asal-usul saya) dan ‘asal-usulnya’ (asal-usul para keluarga Gunungkidul non-Gunungkidul lain). Atau saya balik: karena saya penonton (Orang I: Aku) yang sedang melakukan aksi menonton karya para perupa Gunungkidul (Orang II: Kamu) berjudul “Mulanira” itu, maka {sira} atau {ira} atau {nira} bisa saya anggap: tertuju pada para perupa Gunungkidul (Orang II: Kamu) atau keluarga Gunungkidul non-Gunungkidul lain yang sedang menonton atau tidak (Orang III: Dia, Mereka), sehingga bermakna ‘asal-usulmu’ (asal-usul saya atau asal-usul para perupa) dan ‘asal-usulnya’ (asal-usul dia/mereka).

Saya terlalu bertele-tele. Singkat kata, mulanira adalah asal-usul kita; mulanira merupakan ‘asal-usul’ itu sendiri.

Pertanyaannya kemudian, lewat karya-karya yang dipamerkan oleh para perupa itu: Mana mulanira: asal-usulku, asal-usulmu, asal-usulnya, asal-usul kita, asal-usul Gunungkidul? Mana Gunungkidul yang-asal? Mana yang original? Apa, yang bagaimana? Menanam dan memanen tela? Minum banyu-kendhi? Padasan? Ngangsu-banyu? Suluk? Endhog? Gedheg? Lemah-garing? Angka-angka mistik? Das (nol)? Andha (tangga)? Adam (kekosongan) dan Hawa (nafas)? Pencon-gong dan gamelan-tiup, gamelan-gesek? Hitam-putih merah-putih? Pendhapan? Terbangan? Panakawan? Mungkin kah yang-asal, asal-mula, asal-usul, diidentifikasi, dititeni, diteliti, kemudian diyakini sebagai ‘yang-ini’ lah aku, kamu, kita? ‘Karya-rupa-yang-itu’ lah aku, kamu, kita?

Performance-Art di Acara Pembukaan Pameran
Performance-Art di Acara Pembukaan Pameran “Mulanira”

Benar-benar ada kah mulanira (asal-usul) itu?

Apakahmulanira adalah replika, representasi, atau mutasi: nam-naman janur yang panjang, membentuk panjangan (wadah) dan disebut panjang-ilang? Apakah “mulanira” adalah rimbunnya resan atau wreksan atau kayon yang menjaga kelestarian air dan anggota keluarga di dusun-desa? Apakah air-kehidupan (warih) yang mumbul keluar dan menggenang sebagai tuk, sebagai sumber, sebagai mudal, sebagai umbul, sebagai sendhang, dan dibatasi secara wantah dan lembat oleh giring (dasaran; tepian), yang digunakan dan dimanfaatkan oleh para keluarga untuk melestarikan kehidupan menggunakan bathok kelapa dan kendhi? Apakah udheng-iket? Apakah jarik dan klambi-lurik? Apakah tayub? Apakah sampur merah-jambu untuk ngibing? Apakah mulanira merupakan pendaran, warna-warna, serta gegolongan itu semua?

Meskipun menjawab pertanyaan dan menyuguhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang mulanira itu sulit, namun paling-tidak, menurut rabaan saya, para perupa Gunungkidul lewat Pameran Seni Rupa “Mulanira” telah mencoba mendekati asal-usul dan mendekatkan-dirinya pada yang-asal.

Di dalam pameran dihadirkan beraneka karya yang diciptakan oleh nam-naman (anyaman) keluarga bernama Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG); sejumlah 20 orang. Saya berfikir bahwa nam-naman tak lain merupakan ‘ikatan’. Pemilihan nam-naman janur berbentuk panjang-ilang terasa pas sekali dengan ikatan kekeluargaan di antara perupa; melebar lagi jalinan-kekeluargaan antara perupa dengan penonton berbagai golongan. Simbol panjang-ilang menurut saya merujuk pada makna ‘wadah’ atau ‘ruang’. Ikatan berbentuk nam-naman itu merupakan ajangan atau ajang bagi para perupa Gunungkidul, yaitu ruang ekspresi seni sekaligus ruang-pamer, berisi sesajian dan rerampadan aneka karya. Dipersembahkan kepada siapa, kepada apa? Barangkali kepada Personalitas Gunungkidul: diwakili oleh spirit resan (pangreksa: penjaga) dan banyu (roh: penggerak-animatif).

Bagaimana saya tidak akan berfikir demikian jika ‘simulasi’ atau performance realitas alam Gunungkidul yang disuguhkan oleh Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) pada acara-pembukaan Pameran Seni Rupa “Mulanira” memang menyiratkan spirit itu. Pohon beringin yang berada di tepi jalan di depan Pendhapa Eks Kecamatan disimulasikan sebagai resan atau wreksan sebuah dusun/desa. Pada oyod-gantung pohon beringin digantungkan beberapa panjang-ilang. Tepat di bawah sisi barat resan-pohon-beringin disimulasikan terdapat ‘tuk’ berbentuk cluwokan batu-gamping yang biasa disebut kolah, di sisinya terdapat ‘tiruan’ sumber-air (kolam-segaran) yang dibatasi oleh tumpukan giring (dibawa dari Giring Paliyan). Di sela-sela antara resan-pohon-beringin dan pendhapa disusun display hutan jati (berwarna putih) yang meranggas daun-daunnya (di dalam ruang-pamer juga dipajang lukisan “Mranggas”, karya M. Hilmi); daun-daun jati memenuhi pelataran. Arak-arakan sekelompok orang muncul dari sisi selatan pendhapa diiringi alunan gamelan-wesi (bukan perunggu) menuju ke arah tuk di bawah resan pohon beringin. Di depan ada beberapa peraga berbusana Kejawian: memakai jarik dan surjan-lurik, iket-udheng; seorang peraga membawa wadah-air (kendhi); para peraga Seni Tayub (putra-putri) mengiringkan di belakangnya. Arak-arakan (kirab) ini saya interpretasikan sebagai rombongan keluarga dusun/desa yang melaksanakan ritual pengambilan air-suci-kehidupan dari bawah resan. Ini proses pengambilan ‘air-suci’ dari tempat sakral; menggunakan bathok sebagai bentuk teknologi-sakral, kemudian memasukkannya (air-suci) ke dalam wadah-sakral: kendhi. Di dunia tradisional-desa, banyak hal bersifat sakral. Maka, suasana yang terbangun malam itu pun sakral, bahkan mistik (banyak unsur yang terselubung rahasia); seperti mistiknya unsur-unsur dalam gunungan-wayang (kayuan/kayon): ada pendhapan, ada pohon kehidupan, ada air, ada tanah, dan sebagainya. Tak selang berapa lama setelah kesakralan dan kemistikan berlalu, para peraga mengakhirinya dengan pertunjukan Seni Tayub (dari Tambakrama, Ponjong). Para penonton, terutama tamu undangan, disilakan untuk ngibing, untuk bersama-sama bersuka-ria menari. Menyanyi melengkapi-dilengkapi menari; gamelan garap-soran mengiringi. Kembul-bujana andrawina diwakili oleh adegan ketika para tamu undangan dan para penonton menikmati hidangan makanan, teh, secang, atau kopi.

Kesakrakalan dan kemistikan digantikan dengan keriangan dan ke-gumyak-an (kesuka-riaan) sana-sini.

Memang seperti itu lah sifat seni-kerakyatan: sakral-mistik, namun riang-gembira. Mereka dua-beda-saling-mengganti-melengkapi (paradoksal); bergumul-terus menciptakan keseimbangan tiada henti.

Terminologi ‘mistik’ justru sering diprasangkai oleh keluarga manusia, sementara (secara kontra-produktif) kebanyakan jalan-ketuhanan manusia ingin manunggalnjumbuh dengan kemistikan (ke-Maha-Rahasia-an) dan ke-Serba-Tak-Terhingga-an, menggunakan jalan mistik (batos) pula. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) pun bersifat mistik: penuh kegaiban-kerahasiaan (mysteriousness): sulit diraba-digagapi. Dan luar-biasanya cara berbudaya keluarga di dusun-desa: jalan mistik yang cenderung sakral-suci dihadapkan-langsung dan dibenturkan dengan yang profan-harian. Bahkan digunakan untuk memenuhi ‘nafsu’ keduniawian. Saya tersentil oleh karya Migunani Art-Project, di sisi utara ruang pamer: memistik angka-angka merupakan bagian adat-kebiasaan masa lalu kala banyak orang ‘memburu hadiah’ lewat ‘menebak angka dengan jitu’. Caranya: ngothak-athik pralambang-pralambang atau kode-kode bergambar, kemudian mengalihkodekannya menjadi kombinasi-angka, atau rumpun-angka. Jika angka yang dibedhek benar, menang. Memeroleh uang, gembira riang. Menurut saya, bukan berarti adat ngothak-athik angka ini tanpa dasar ilmu pengetahuan atau prosedur ilmiah. Leluhur memiliki khasanah ilmu pengetahuan yang disebut candrasengkala atau suryasengkala (kronogram). Masing-masing teks, bentuk-rupa-alam, itu memiliki makna angka. Memistik atau ngothak-athik lambang gambar menjadi angka (sejajar dengan sejarah hadirnya alphabet) justru menggunakan prosedur ini. Maka, batin-saya, mencari-mendekati mulanira, memang bisa dengan cara memistik, ngothak-athik, memikirkan dalam-dalam bentuk-bentuk rupa-rupa unsur alam, lantas memaknakannya sebagai angka-angka, bilangan-bilangan, penjumlahan-pengurangan-pengalian-pembagian. Kadang hasil kerjanya memang nihil (angka 0), tiada hasil (kosong).

Hijrah, Karya Iba Ibok
Hijrah, Karya Iba Ibok

Secara paradoks, aksi kembali ke kekosongan yang berkelindan dengan kenihilan, dimunculkan oleh lukisan (akrilik) “Hijrah” karya Iba Ibok dan lukisan (minyak) “Hijrah” karya Thoyib Sigit S. Kebetulan atau tidak, bawah sadar atau bukan, kedua karya lukis itu mengabarkan adanya perpindahan-perubahan, migrasi, atau transformasi ‘bentuk-isi’ (form-content). Iba Ibok njawil angan-angan saya dengan padasan, peci(s), dan berjajarnya sandhal-jepit tanpa kaki. Padasan adalah tempat mungguhnya air-suci. Tentu, air suci digunakan untuk prosesi penyucian. Penyucian merupakan tata-laku gerak kembali kepada kekosongan, kepada nir-pamrih, kepada nir-kejumawaan, kepada ‘asal-usul mula’, kepada kemurnian pikiran (peci). Padasan berakar dari kata das, berarti kosong, atau murni. Laku para anak cucu Gunungkidul bisa dianggap kembali (hijrah) ke kesucian-kemurnian awal: kembali kepada kekosongan, kepada kedamaian awal-waktu. Das, kekosongan, atau asal-usul, yang memiliki kemiripan dengan adam (keadaan yang kosong) oleh Danang W. digambarkan berdialog dengan hawa, nafas, dan di antara keduanya mungguh nafsu (dalam karya “Adam-Hawa”). Namun nafas-langit (angin) pula lah, di awal waktu, yang melahirkan instrumen gamelan. Teknik organologi gamelan di antaranya gesek dan tiup. Gamelan gesek-tiup dalam gelombang-panjang panjang-gelombangnya telah berdiaspora, berdialog, dan bermetaforma mewujud biola dan sexophones; nada-nadanya menenangkan dan menentramkan (karya lukisan Diajeng Sae: “Nada Damai”, akrilik pada kanvas). Barangkali memang, itu semua merupakan gambaran umum tentang laku ‘hijrah’, migrasi, atau  transformasi besar, dari kemelekatan-keduniawian menuju kepada kekosongan-ketiadaan. Sementara Thoyib dalam ‘Hijrah” di atas itu menguatkan: manusia yang berjalan melewati andha (tangga) menembus tawang (langit), menuju tampakan-visual di langit berupa gong. Gamelan-gong mempunyai pencu (pusat-susu): paratanda tentang asal-usul suara-agung, suara-mendengung-merambat ke penjuru jagad.

Suara-suara langit yang amat kuno (purwa) sejak awal-waktu merupakan penggerak kehidupan dan dimensi kerja manusia. Suasana pagi hari di pakebonan-pategalan-pasawahan siap ditanami; seliweran hewan-hewan penjaga kesuburan sawah; serta latar sorot matahari (Sri): merupakan keindahan alam. “Esuk-esuk” (karya Bernard Wora-wari) adalah paratanda dimulainya hidup dan kerja manusia. Among-tani mengolah tanah mengolah rasa: mengaluri galengan-sawah sembari mikul-pocong bongkokan benih-padi yang akarnya masih menyisakan-meneteskan air-persemaian, sebentar nanti benih-benih padi akan ditanamkan di tetanah (menyiapkan winih demi masa depan juga disajikan oleh Markhaban berupa drawing berjudul “Mengenal Lingkungan”). Tanah Gunungkidul ibarat kebon ({ka-}+{ibu}+{-an}), yaitu ‘ibu’ bagi tumbuh-kembangnya tanam-tanaman: palawiji (pari), palawija (kacang, jagung), palapendhem, palagantung, palakirna. Kelak, pada suatu masa, Kebon Agung Gunungkidul (sejajar dengan visualisasi pada satu-satunya foto karya Akhid yang dipamerkan di antara karya-rupa lain berjudul “Turi-turi Putih”; foto para penabuh Seni Terbangan) melahirkan buah-buahan, memasuki masa panenan. Beraneka pala-palanan dihasilkan: panen pari, panen kacang, panen mete, panen uwi, “Panen Tela” (karya Herlan Sae).

Keindahan dan kesuburan melahirkan kebahagiaan.

Paradoks pakebonan-pakarangan Gunungkidul yang tampak indah tetap berjalan. Pakebonan Gunungkidul itu basah-subur, sekaligus kering-tandus. Apalagi di musim kemarau, pakarangan-pakarangan mengalami kekurangan air bahkan kekeringan (durga-kala). Gambaran kesuburan-tanah (Dewi Sri, Uma), keindahan ikan-ikan dan lautan, tumbuhan sulur-suluran dalam motif batik, ditabrakkan dengan gambaran kekeringan tetanah; dimana manuk-manuk nyucuk makanan (bijian) di tetanah pating-plethek ini (karya Suyidno: “Podhang Ngisep Sari”). Keindahan dan kesuburan alam Gunungkidul bisa saja diisep (diambil sari patinya) untuk kebahagiaan bersama: pembangunan dan kemajuan, atau sebaliknya: diisep sampai garing-aking (kering, layu) hingga mengalami kemunduran dan pembusukan. Tampak, Pakebonan-Pakarangan Gunungkidul akhir-akhir ini sedang diisep besar-besaran untuk tujuan keduanya. Jika pun sumber-sumber dan telaga-telaga masih mampu menyediakan cadangan air, sehingga para keluarga Gunungkidul masih bisa nyucup banyu dari kendhi yang sama dan mengambil dari sumber yang sama, maka Kebon Gunungkidul tidak mengandung motif untuk menyengsarakan keluarga manusia. Banyu-tawa (air-dingin) dalam kendhi yang diambil dari sumber atau telaga, yang cara membawanya dengan diindhit atau disunggi dengan kendhil (Herlan Sae: “Berbagi”; teknik impresi-ekspresif akrilik), yang dicucup bergantian-bersama-sama, mengingatkan saya bahwa gerabah seperti kendhi dan kendhil serta aksi budaya yang menyertainya adalah ‘teknologi-untuk-berbagi’. Tujuan diciptakannya sebuah teknologi itu untuk kemaslahatan-kemakmuran bersama. Metodenya: gotong-royong tembayatan. Kenyataannya: Pakebonan Gunungkidul hingga sekarang ini sering mengalami kekeringan. Keberadaan air beserta wadhah-air kehidupan pada hakekatnya untuk digunakan bersama-sama, dengan kata lain air dan sumber-air merupakan barang-publik (public-goods) yang tentu dapat dimanfaatkan oleh banyak orang bukan melulu oleh sekelompok orang bahkan seseorang.

Berbagi, Karya Herlan Sae
Berbagi, Karya Herlan Sae

Harapannya, Ibu Gunungkidul tidak sombat-sembet: “Hiyungalah…, Hiyungalah…. !” (karya Danang Seribu Kawan) saja.

Tandang-gawe ilmu pengetahuan dan seni-budaya dapat dilakukan dengan cara mengamati, mengenali, niteni, serta memahami sistem-informasi-geografi lingkungan sekitar (karya Markhaban: “Mengenal Lingkungan”): keunggulan dan atau kekurangan tanah berkarang misalnya. Alangkah baiknya jika keluarga manusia tidak hanya asik-masyuk dalam kothakan yang diyakini sebagai ‘pembangunan’ dan ‘kemajuan’, atau ‘keberhasilan’, karena terkadang, nalar dan eksekusi pembangunan dan kemajuan justru menimbulkan kerusakan lingkungan (matinya telaga-telaga, terdesaknya lahan garapan subsisten, penebangan liar tanpa penanaman dan pembibitan, penyerobotan-pendakuan sumber air untuk komoditas-air dan wisata-air, dll.). EB Wahyuno, dalam karya lukis ekspresif hitam-putih dikombinasikan unsur tiga-dimensi berjudul: “(Me)niteni”, seakan berpesan kepada saya bahwa saya harus meniteni: memasang peniti (pengunci) sekaligus niteni (meneliti) kitab/buku (jagad-gumulung) sebagai citraan atau foto-kopi alam-raya (jagad-gumelar). Alam-raya yang telah dikitabkan semacam primbon, suluk, atau kitab-kitab lain dan didalamnya tersimpan berbagai informasi tentang mulanira hendaknya dipeniteni. Tujuannya agar saya weruh dan akhirnya memiliki kawruh tentang alam lingkungan. Bukan kah manusia yang memiliki kawruh bisa disebut pana? Panakawan, yaitu rowang atau teman atau subjek yang memiliki kawruh, dihadirkan oleh EB Wahyuno dalam karya itu. Sesepuh, pinisepuh, leluhur-mula, memiliki kawruh. Mereka panakawan. Mereka rowang yang memiliki pengetahuan tentang alam sekitar. Kemudian, Migunani Art Project (dalam karya: “Kembul”) kembali membanjiri pikiran saya dengan beraneka coretan yang tidak mudah saya pahami, seperti: tulang-belulang, skate-board bercorak poleng, ‘manusia-bersayap’, Donald Bebek, dan sebagainya; memenuhi dinding dan lantai sebelah kanan-kiri dan depan saya, sementara di pusat sudut-pandang penonton (di tengah) terdapat sebuah pawon (berbahan batu), di atasnya didudukkan ceret dan dandang. Pengertian saya, pala (hasil) dari kegiatan riset dan ngangsu-kawruh kepada sesepuh-leluhur lantas diolah: dimasak, didang, di sebuah ruang (dapur) dan di sebuah tempat pengolahan (pawon). Hasil olahan ilmu-pengetahuan dan produk-produk budaya pada nantinya disajikan ke hadapan masyarakat kemudian di-kembul-bujana-andrawina-i bersama-sama.

Pada waktu-waktu berikutnya, berbagai produk ilmu-pengetahuan dan seni-budaya baik warisan leluhur Gunungkidul maupun produk-baru jaman kini sebagai hasil olahan ilmu-pengetahuan dan seni-budaya pramodern akan dirindukan, dicari, diingin-tahui oleh keturunannya. Para anak-cucu keluarga Gunungkidul era milenial melakukan ekskursi, jalan-jalan, tamasya, wisata, mlaku-mlaku, pit-pitan ke masa lalu, untuk bernostalgia “Mengenang Masa Lalu” (karya R. Nur S.). Saya, bisa jadi Anda, ingin lelaku mencari tahu masa lalu Gunungkidul. Misalnya dalam lelaku itu bertemu seorang sesepuh-desa di Gunungkidul yang masih hidup, maka saya dan Anda dan Anda Lain serasa ingin menyerap kawruh-nya, mendengar tuturan darinya, tuturan seperti gambaran perupa Edi Padmo dalam karya “Sembur-Tutur”: cerita-mula manusia (biru) yang berdiri di tepi dinding gedheg dan menggenggam endhog-jagad di tangan kanannya berdekatan dengan cawan/gelas di atas sebuah meja, tangan kirinya memegang tepian lubang dinding gedheg bolong-menganga lebar, pang-carang atau lebih enaknya semacam ‘akar’ tempat tumbuh daun-hijau-muda kontras dengan daun-coklat-kering masuk melewati lubang sisi kiri-atas lubang-dinding-gedheg, sementara di tengah lubang-dinding-gedheg tampak visual pegunungan yang banyak jumlahnya (seperti Pegunungan Seribu), di belakangnya lautan luas, di atas lautan ada warna putih dan hitam.

Meniteni, Karya EB Wahyuno
(Me)niteni, Karya EB Wahyuno

Begitu lah: Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) mengingatkan pribadi sekaligus penonton seperti saya untuk tak pernah berhenti meraba, niteni, mencatat, lantas jika pun memungkinkan menggambar, mengomposisikan, memasangkan, atau memvisualkan, bahkan cukil-mencukilkan (seperti kerja komunitas Lumbung Kawruh dari Petir Rongkop yang menginteraksikan ‘kawruh-Gunungkidul’ dengan ‘kawruh-Sunda’; pada malam itu mereka berada di lokasi pameran namun tak ikut-serta dalam pameran): apa-apa dan siapa-siapa yang untuk sementara ini kita yakini sebagai Gunungkidul, sebagai Gunungkidul mula: “mulanira-Gunungkidul”. Dan paling tidak, pameran kali ini, untuk sementara waktu, mampu membantu saya dalam rangka menggambarkan ‘manusia Gunungkidul’ beserta atribut budaya di sekelilingnya: manusia Gunungkidul itu siapa dan seperti apa. Sebagai titik-mula kembali: bahwa pencarian, pengidentifikasian, serta penghidupan merupakan kerja terus-menerus tak berkesudahan, terutama oleh manusia Gunungkidul sendiri (termasuk para perupa dan penonton seperti saya).

Barangkali itu yang dimaksudkan oleh para perupa sebagai mulanira, mula-muasal para perupa, yaitu mula-muasal segala yang diidentifikasi sebagai manusia Gunungkidul beserta pernik budayanya, dan merupakan rupa-rupa citraan-citraan yang saya tangkap dari beraneka karya lukis, grafis, instalasi, hanya berdasar redupnya damar yang saya-miliki lantas saya-gunakan untuk mengomentari.

Rupa-rupa itu hitam-putih. Rupa-rupa itu paradoks. Rupa-rupa itu oleh Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) dimaksudkan sebagai ruang-interaksi untuk melahirkan “spirit-baru” dan “pemikiran baru” Gunungkidul tetapi tetap berkiblat pada “mulanira”. Olah-cipta, olah-rasa, dan olah-karsa para leluhur itu adiluhung, terepresentasikan dalam adat, budaya, (peri)laku, serta digunakan untuk menjaga keseimbangan hidup dengan sasama (sesama-manusia dan sesama-titah-Tuhan [hewan, tumbuhan, dan unsur-unsur alam-raya lainnya]). Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) mencoba mengaduk kembali pemikiran-awal dan mula-buka (mungkin seperti mengaduk jladren-apem, membuat komposisi, agar menghasilkan apem yang empuk, wangi, manis, dan ketika dinikmati mak-klenyem enak sekali), kemudian mengaktualkannya dalam berbagai bentuk lukisan, karya multi-dimensi, display-outdoor, yang se-original mungkin dapat merepresentasikan ‘realitas-alam-Gunungkidul’. Tentu, dengan demikian, lewat pameran kali ini, Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) bermaksud mengajak penonton untuk bernostalgia ke “Gunungkidul mula”. Harapannya, para penonton akan ber-de javu: di alam bawah sadar masing-masing penonton muncul mimpi: seakan pernah berkelana ke wilayah “Gunungkidul Original”, sehingga memunculkan semangat dalam rangka menjaga ‘keseimbangan-ruang’ bernama Gunungkidul yang akhir-akhir ini mengalami modernisasi. Jika melupakan ‘mulanira Gunungkidul’ dan terlalu asik dengan modernisasi, Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) khawatir suatu saat mungkin kita semua akan kehilangan Gunungkidul. Mengingat “mulanira” dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan sikap dan kebijak(sana)an demi menciptakan harmoni kehidupan.

Sembur-Tutur, Karya Edi Padmo
Sembur-Tutur, Karya Edi Padmo

Itu teks-release mereka yang saya-baca di sebuah papan-pamer. Sering, mereka memeroleh kesempatan berpameran di ruang-ruang yang beratribut ‘eks’: bekas, dan bekas: bekas sebuah ruang. Bukan memamerkan rupa-rupa ilmu pengetahuan Gunungkidul (intelectual-property) di ‘ruang’ yang mungguh sebagai ruang yang dinginkan-dikonstruksikan sebagai ruang-bersama dimana seluruh masyarakat merasa handarbeni, kemudian dengan jujur melakukan inter-relasi dan inter-aksi (gotong-royong tembayatan), sehingga handayani (menguatkan) pencarian dan pemunculan “mulanira” Gunungkidul sebagai bentuk apapun: ruang, personalitas, kesadaran-bersama, aliran-seni-rupa, dan sebagainya dan sebagainya.

Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) telah beraksi lagi: mencoba meraba, meniteni, kemudian memunculkan kembali rupa-rupa kawruh Gunungkidul dalam berbagai bentuk karya-rupa berpayung conceptual-arts, mendesakkan ke mata dan rasa penonton seperti saya: keseimbangan antara (pos)modernitas dan pramodernitas (Gunungkidul) di ‘ruang-pamer’ seni. Semoga, usai menontoninya ini, saya belum terlambat untuk ikut (minimal) membincang rupa-rupa seni, biar apa yang saya-angankan sebagai kemunculan-kembali ‘mulanira-Gunungkidul’ atau ‘Gunungkidul-mulanira’ bukan seperti kehadiran saya malam itu yang terlambat untuk berinteraksi.

Bukan pula seperti anyaman-janur panjang-ilang yang ke-ada-annya oleh beberapa keluarga di Gunungkidul dianggap tiada arti; melulu artifisial-nya seni; hanya pa(n)jangan-bergelantungan di sana-sini.

[Sasra Arga]