Nelayan Ngrenehan Ini Sekali Melaut Pernah Peroleh Ikan Tongkol 1 Kwintal

oleh
Suyono salah satu nelayan di Pantai Ngrenehan Saptosari. Dok: KH.

Tegar dan kerasnya bebatuan karang Pantai Ngrenehan tampaknya juga menjadi gambaran tegar dan kerasnya kehidupan para warga Desa Kanigoro Saptosari yang menjalani hidupnya sebagai nelayan. Suyono, lelaki berusia 42 tahun ini adalah generasi kedua warga Desa Kanigoro yang bekerja penuh waktu sebagai nelayan. Bukan sekadar petani ladang yang nyambi sebagai nelayan saat musim ikan.

Mulai tahun 1991, lelaki tamatan SD ini sehari-hari pergi melaut mencari ikan dengan perahu jukung pemberian orang tuanya. Pilihan hidup Suyono memang berbeda dengan kebanyakan warga Desa Kanigoro yang menjadi petani ladang atau mengadu nasib ke kota menjadi pekerja beboro di Wonosari, Yogya, Solo, atau Jakarta.

Ayah Suyonobernama Marjo berusia sekitar 75 tahun. Marjo, Supar, dan Warno, adalah bagian dari generasi pertama warga Desa Kanigoro yang mula-mula adalah petani desa yang kemudian beralih menjadi nelayan pada awal tahun 1980/1981.

“Saya masih ingat, pada waktu masih kecil sering diajak Bapak melaut untuk mencari ikan dengan perahu jukung masih dari kayu,” ungkap Suyono, Jumat (29/6/2018). Kebiasaan mengikuti orang tuanya melaut dengan perahu kayu dan peralatan yang masih seadanya itu membuat dirinya mengenal dan mencintai pekerjaan mencari ikan di pantai dan di tengah lautan.

“Saya sekolah hanya tamat SD. Tidak punya ladang yang luas untuk bertani. Pikir saya juga mau kerja apa kalau tidak pergi ke kota. Karena saya sudah terbiasa mencari ikan di laut dengan orang tua saya, dan hasilnya saya tahu sendiri lebih dari cukup daripada bertani, maka saya juga melanjutkan pekerjaan bapak saya menjadi pencari ikan,” tandas Suyono.

Dengan modal awal perahu dan peralatan tangkap dari orang tuanya, Suyono menekuni pekerjaan mencari ikan di laut. Pada saat ini, ia sudah memiliki sendiri perahu, motor tempel, dan peralatan tangkap jaring dan rendet. Pernah pula ia mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa jaring dan pelatihan menangkap ikan.

“Sudah kurang lebih 18 tahun saya mencari ikan laut. Hasilnya kadang memang tidak menentu. Pada saat bukan musim ikan, terkadang hasilnya minim, impas untuk beli bensin. Tetapi asal saya mau pergi melaut, selama ini pasti ada saja ikan yang bisa saya bawa pulang,” ungkap Yono.

Suyono menuturkan, asal tidak ada kendala cuaca, setiap hari ia selalu melaut. Pergi melaut biasanya saat subuh sekitar jam 04.00 dan kembali mendarat di Ngrenehan sekitar jam 13.00 sampai jam 14.00. Ia biasanya melaut sampai sejauh 4 mil laut dari garis pantai. Untuk wilayah jelajahnya ia lebih banyak memilih dari Pantai Ngrenehan ke arah barat sampai Parangtritis atau kadang-kadang sampai sebelah selatan Glagah Kulonprogo.

Sekali melaut Suyono menghabiskan BBM bensin antara 10-15 liter. Hasil tangkapan rata-rata setiap hari dalam kisaran 30-40 kg. Namun saat musim sulit ikan, ia pernah mendapatkan hasil kurang dari 20 kg. Meski pernah mendapatkan hasil yang minim, Suyono tidak merasa kapok. Ia mengibaratkan seperti petani yang sedang menghadapi paceklik hasil pertaniannya.

“Musim baik buat nelayan itu pada bulan-bulan berakhiran “ber”, seperti September, Oktober, November, Desember. Pada tahun 2001 saya pernah mendapatkan rejeki nomplok. Saat itu musim mudah mendapatkan ikan, saat itu saya pernah mendapatkan tangkapan ikan tongkol lebih dari 1 kwintal sekali melaut,” tandas Yono. Rejeki yang diperoleh Yono saat mendapatkan hasil tangkapan yang berlebih pada saat itu dipergunakan untuk membeli perlengkapan melaut.

Suyono mengaku, dengan menekuni pekerjaan sebagai nelayan, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Kedua anaknya saat ini sedang bersekolah di salah satu SMP dan SMA di Saptosari. Suyono juga memiliki usaha sampingan berupa warung hasil olahan laut dan warung makan yang melayani wisatawan Pantai Ngrenehan.

“Karena saya tidak memiliki ladang yang luas, saya mengalami dan merasakan sendiri bisa menghidupi keluarga dengan menjadi nelayan. Pantai dan isi laut selatan ini menjadi sumber rejeki bagi keluarga saya,” ungkap Suyono.

Pada saat ini terdapat 130 keluarga yang bekerja sebagai nelayan dengan pangkalan di Pantai Ngrenehan. Sementara itu ada 59 kapal jukung yang biasa beroperasi. Suyono juga mengungkapkan, bahwa kesejahteraan para nelayan Pantai Ngrenehan berangsur semakin membaik.

Bahkan pada saat ini keluarga nelayan rata-rata juga memiliki usaha sampingan penjualan olahan makanan laut atau warung makan. Salah satu nelayan Pantai Ngrenehan lainnya, yaitu Sungeng yang juga menjadi ketua paguyuban nelayan juga memiliki warung makan yang cukup besar di Pantai Ngrenehan, yaitu “Warung Minaku”.

***

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.