Panjang Ilang

Panjang ilang di mulut Goa Bribin. Swara/Wage.

Kebo bang sungunya tanggung, saben kempi mirah ingsun, katon pupur lelaratan, kunirpita kasut kayu, wuku cumbu madukara, paran marganing ketemu.
[Cakepan Gerongan Ladrang “Panjang Ilang”]

Ungkapan bernuansa ‘nglangut’ dalam cakepan ladrang “Panjang Ilang” itu (berlaras slendro; laras slendro lazim digunakan untuk menggambarkan suasana ‘nglangut’; gendhing karawitan digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang ‘rawit’, yang lembut, yang ‘lungid’) tentu tidak lahir dari pemahaman yang tidak mendalam tentang alam oleh pujangga/empu yang menciptakannya (saya tak tahu nama penciptanya; saya bertanya kepada adik saya yang pengrawit pun ia tak tahu; jelas, di antara Anda ada yang tahu).

Alam dan manusia, serta momen ‘kematian’ (layon) keduanya, sangat dihayati oleh kulawangsa manusia. Kemudian mereka menciptakan ‘seni-tinggi’ untuk merekam estetika alam lalu mewariskannya pada anak-cucu. Seni, berbarengan dengan unsur-unsur budaya lain, adalah ‘jalan’ politik manusia untuk mundhi/menjunjung tinggi hakekat alam agar mungguh pada tempatnya. Alam akan dengan mudah mencapai suasana mati (layu) jika kulawangsa manusia tak meninggikannya, apalagi merendahkannya.

Kulawangsa manusia menyajikan seni persembahan kepada alam.

Manakah yang lebih pas (orang Jawa mengatakan ‘mungguh’ itu; berada pada tempat, situasi, atau tujuan yang semestinya): kulawangsa manusia yang memiliki motif memberi persembahan seni (seni ‘panjangan’ atau Sesajian; saya tulis dengan [S]) tiada henti kepada alam, ataukah kulawangsa manusia yang terus-menerus menutup-nutupi hasrat brai-nya kepada alam sebagai motif mengeruk, menyerobot, atau mengeksploitasi tubuh alam demi memenuhi hasrat hewaniyahnya sendiri (manusia dengan tanpa syarat memeroleh sesajian alam; saya tulis dengan [s]) yang lekuk tubuh alam memang amat seksi ini: susunya yang ranum, kenceng, penuh isi, kalinya yang lenggak-lenggok, guanya yang gelap, lungit, dan dalam, telaganya (socanya, matanya) yang bening dan kilau, hangat iklimnya membuat among-tani terengah dan berkeringat (tropis=hangat), dst., hingga alam secara tak kasat menjadi ‘kuru-aking’? Hingga pemahaman manusia pada alam tak lagi bercita-rasa seni? Jika nilai keTuhanan/kePangheranan adalah sebagaimana yang ada di angan-angan dan rasa saya, Dia akan memanjangkan sabdanya kepada kulawangsa manusia untuk cenderung ke yang pertama.

Bukan kah manusia tidak bisa: tidak menthil, tidak nyusu, dan tidak njaluk gendhong kepada alam, menyapih dirinya sendiri untuk pisah dengan-Nya pada suatu waktu mitis tertentu (ewuh), dengan alam itu? Tindakan-tindakan manusia, baik mistik maupun lahir, baik rasional atau tak rasional, baik ilmiah atau sekedar gugon-tuhon (meskipun telah sepantasnya gugon-tuhon pun digolongkan ilmiah dan alamiah, yaitu sesuatu yang digugu, diyakini kebenarannya, oleh masyarakat pendukungnya, karena tuhu, nyata), merupakan ‘panjang’ atau ‘ajang’ (arena, wadah, piring) pembuktian tentang hal ini.

Ajang pembuktian nilai-nilai kebergantungan-akhir segala sesuatu.

Memang, seperti pemilihan ‘objek’ di topik perbincangan ilmu pengetahuan lain, ajang pembuktian panjangilang berhubungan dengan nilai kebergantungan akhir segala sesuatu itu bernuansa politik. Teknik berkesenian (menyajikan seni) adalah politik. Minimal pilihan politik saya: politik ‘penguasaan’ makna panjang-ilang; atau yang lebih ndakik-ndakik: politik literasi panjang-ilang; atau yang sok sosio-ekologis: politik penciptaan kehidupan leres-laras antara kulawangsa manusia dengan alam. Manusia adalah makhluk berpolitik, termasuk bersama dengan alamnya. Ini umpama hubungan antara Abdi dengan Bendaranya; Kawula dengan Gustinya. Gerak (jalan politik) manusia adalah: dari, di, dan ke alam.

Konsep keberakhiran/kebergantungan segala sesuatu jika diyakini oleh kulawangsa manusia sebagai suatu Ada-Lain yang ‘nyawang’ dan menguasai alam dari ketinggian atau ketakterhinggaan langit, maka manusia memilih jalan politik mempersembahkan Sesajian kepada alam yang merupakan turunan langsung dari bahasa kekuasaan langit. Namun jika konsep keberakhiran/kebergantungan segala sesuatu diyakini oleh kulawangsa manusia sebagai suatu Ada-Lain yang nyawiji dengannya, maka kulawangsa manusia memilih jalan politik (seni) dengan nandhing sarira, mulat sarira, lantas tepa sarira. Artinya, jika tindakan kulawangsa manusia merupakan politik persembahannya kepada alam, maka sebenarnya ia/mereka menyajikan sesajian untuk dirinya sendiri.

Politik manusia, dalam hubungannya dengan alam, di beberapa bagian adalah play-victim (dalam tataran tertentu). Manusia mengidenfikasi dirinya sebagai bukan-alam dan menjadi korban gerak alam. Kemudian manusia menyuguhkan banten (korban) agar diri dan kulawangsanya tidak ‘dikorbankan’ oleh kekuasaan alam; oleh kekuatan kekuasaan konsep kePangheranan yang sering menggunakan logika bencana alam dan pengorbanan manusia (katastropi). Penguasa unsur alam (dhanyang, penunggu alam, roh manusia suci, roh leluhur dll.) sebagai turunan Penguasa Alam (terkadang para roh suci dan manusia unggul pun menjadi congkok kehidupan agar manusia dan tata-desanya tidak dikorbankan) diajak lobi. Diminta berkompromi. Saya dapat apa, situ korban apa. Atau sebaliknya. Yang aku dan kamu (manusia dan alam) tukargulingkan apa, yang seperti apa, yang bagaimana.

Persembahan manusia menggunakan ajang/piring/wakulnya masing-masing, dan tentu berisi isian-isian hakekat unsur-unsur alam, digunakan untuk lobi di jalan politik ini. (Seperti pilihan politik Wanapawira di Alas Nangkadhoyong, atau Onggoloco di Alas Wanasadi).

Simbol ajang/panjang/piring terbang raksasa (UFO) yang digambarkan oleh leluhur di panel relief piring raksasa (baca: Candi) yang disebut Borobudur barangkali, hanya barangkali, dimaksudkan sebagai seni persembahan kulawangsa manusia kepada alamnya (Pencipta Alam Raya dan Tawang tak bertepi). Piring terbang merupakan pola panjanggiri (piring besar) setangkep/sepasang, yaitu tambir, tampah, wakul, layah, loyang, atau ajang (oleh orang tradisional beberapa produk budaya teknologis ini digunakan sebagai piranti kerja harian sekaligus tempat/papan/ajang ubarampe persembahan di dalam upacara-ritus-siklis sepanjang daur hidup manusia; isinya berupa ambengan, atau tumpeng, jejanganan, woh-wohan, dsb.), piring-besar yang dimiliki oleh kulawangsa manusia mewadahi nalar dan rasanya tentang ketakberhinggan alam raya, terutama langit atau tawang. Istilah-istilah yang dimiliki oleh kulawangsa manusia klasik seperti panjang-putra, panjang-piring, atau panjang-watu, tampaknya merujuk pada makna ‘piring-besar’ kulawangsa manusia.

Tawang memang panjang. Tawang bisa disebut dawa. Ajang/piring yang digunakan untuk mengeksplorasi atau mendekatkan kulawangsa manusia kepada hakekat tawang merupakan pamanjang/pandawa: alat untuk memanjangkan kehendak/motif/visi agar ‘sampai’ di tujuan (mungkin juga berlaku untuk kebul atau aroma khas tertentu yang dihasilkan oleh bumi; cendana atau menyan misalnya). Panjangan/ajang/wakul diisi hal-hal yang diyakini mampu memanjangkan motif/visi atau budi atau pala (buah-pikiran) kulawangsa manusia: palawiji, palawija, palapendhem, palagantung, palakirna, dll.

Lambang pala-palanan sering digunakan oleh kulawangsa manusia untuk menggambarkan kondisi persatuan-agung. (Mungkin sejajar dengan laku amukti-pala a la Gadjah Mada: persatuan raja dengan ratu: bumi).

Oleh karena itu, panjang ilang menurut saya adalah simbolisasi pernikahan-agung (hierogami-kosmik; pawiwahan agung) antara kulawangsa manusia (raja; pangantyan-putra) dengan alamnya (ratu; pangantyan-putri). Alam telah ngajangi (memberi ajang) kulawangsa manusua untuk mengembangkan budaya. Begitu sebaliknya, kulawangsa manusia nyedhiyani papan/ajang/wakul berisi sarwa-sarwi palawija dan palawiji di atas tadi. Pernikahan antara manusia dengan alam menuntut banten; pengorbanan. Pilihan politiknya: mengganti banten (victim) dengan banten lain (victim lain).

Kulawangsa manusia modern yang menikahi (untuk tak mengatakan memaksa menikahi atau memerkosa) alamnya pun menuntut adanya banten. Panjangilang, maka dari itu, dimaksudkan sebagai ganti banten, pengorbanan, demi perayaan persatuan manusia dengan alamnya. Ajang-ajang/panjang-panjang/wakul-wakul berisi makanan-minuman hasil bumi disiapkan: lemper, kacang bawang, wajik, puli, jangan lombok, mi, daging sapi, teh, kopi, arak (minuman fermentasi), tape, emping, lempeng, pathilo, krecek, daging wedhus, dsb. Makanan dan minuman berada dalam kondisi piring-terbang.

Kembul bhujana andrawina dalam payung besar pawiwahan sang kula di dalam aturan rumah tangga kulawangsa manusia (omah-omah) dibarengi tindakan simbolik kembul bhujana manusia bersama unsur alam yang dihormatinya. Unsur alam ini sebagai Ada-Lain yang ‘ilang’ (tiada, tak tampak) namun diyakini Ada (urip).

Panjang-ilang (yang oleh beberapa orang melulu dijadikan sebagai barang dagangan: “kearifan-lokal”) berperan sebagai pandawa (telangkai) yang menghubungkan panjangka (kehendak; hasrat-hidup dan hasrat-tentang-sesuatu-yang-hidup) dan visi kulawangsa manusia untuk sesuatu yang adiduniawi, yang supra-natur, yang melebihi entitas material. Nol nilainya. Piring-piringan dari daun sada kulawangsa manusia (janur) beserta ubarampenya itu mungkin bisa disebut muspra, tak ada guna, karena diperuntukkan kepada non-siapa. Non siapa yang melulu tidak digolongkan sebagai siapa, apalagi apa. Alam adalah non-siapa. Memang, suatu-keyakinan bisa menggap keberadaannya nihil (mungkin seperti seni remeh-temeh/kitsch posmodern bagi seni pramodern atau sebaliknya, atau mungkin agama-bumi bagi agama-langit dan sebaliknya), muspra, atau ilang, layu, layon (kematian, realitas fisik) namun sejatinya ada/hidup (kehidupan, realitas nonfisik).

Suatu ada yang secara simbolik dihormati dengan tubuh dan jiwanya; digantungkan di kaki kekayon/wreksa yang dawa (panjang) ke langit dan ngrembuyung pang-carang-daunnya, di kali yang mendawa (memanjang) ke laut, di bibir goa yang panjang nuju perut bumi. Amat panjang. Sepanjang-sejauh rahim Guwa Bribin yang mengular gelap. Melorong degup. Kekayu itu kini telah kusut (seram), dan kasut (tertutup bilah kayu). Kebangkitan hasrat hidup dari balik layon/sripah diiringi ladrang Panjang Ilang, atau Laler Mengeng, atau Ayak-ayak Tlutur. Begitu nglangut. Begitu sedih.

Panjang-ilang itu, tak lain tak bukan, persembahan para anak (kulawangsa manusia; caturwarna) kepada ibunya (alam; pancer), juga panjangka manusia (anyaman/lilitan janur berbentuk ajang/piring atau wakul) agar diri dan kulawangsanya dapat selalu manjing dengan nilai-nilai kebergantungan-akhir segala sesuatu. Mereka memasang punjungan atau panjangan (Sesajian) untuk dihaturkan kepadaNya (kekuasaan alam dan kekuasaan di atas alam) saban pancer-nya waktu (ewuh).

Yang tiada ujung (panjang). Yang mokta (ilang).

***

(Wage)

Facebook Comments
Bagikan melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •