Pantai di Teluk Itu Saluran Drainase Alami: Belajar dari Ngrenehan, Baron, Sadranan dan Drini

oleh
Hamparan pasir pantai Sadranan terbelah menjadi saluran drainase alami akibat hujan deras. Para nelayan/pedagang langsung memperbaiki warung di area tersebut, tidak tertutup kemungkinan akan tersapu banjir lagi di waktu mendatang, apabila tidak dibuat saluran drainase yang memadai. Foto: SAR Baron.

Pantai di teluk itu sejatinya juga saluran air hujan alami. Masih tidak percaya? Lihat saja kerusakan di Pantai Ngrenehan, Baron, Kukup, Drini, Sadranan, dan pantai-pantai teluk lainnya akibat diterjang banjir ketika hujan deras mengguyur Sabtu – Minggu (16-17/3/2019) lalu. Semua kerusakan memiliki tipikal yang sama: hamparan pasir terbelah, perahu yang ditambat ikut terbawa arus, beberapa bangunan (warung, rumah tinggal, gardu pandang) hanyut atau roboh atau miring.

Terlihat pondasi bangunan yang tersisa, karena lapis tanahnya hanyut terbawa derasnya aliran air hujan dari arah daratan menuju pantai. Dalam waktu kurang dari 2 hari, air hujan yang mengalir dari arah daratan secara alamiah telah membentuk saluran drainase yang menunjukkan seberapa besar lebar dan kedalaman yang dibutuhkan agar mampu mengalirkan air hujan ke laut.

Kita memang sering mengabaikan bahwa air hujan yang membasahi bumi memerlukan jalan menuju ke permukaan yang lebih rendah elevasinya. Benar, ada air hujan yang meresap masuk ke dalam pori-pori bumi. Namun, sebagian besar sisanya pasti mencari jalan mengalir ke mana saja menuju permukaan yang lebih rendah, dengan terminal akhir menyatu dengan air laut.

Ketika tidak tersedia jalan air, atau ketika jalan air tersebut hanya alur kecil yang tak sebanding dengan volume air yang mau lewat, maka secara alamiah air akan menerjang apa saja agar bisa lewat. Kerusakan atau hanyutnya rumah, bangunan, tanggul, hamparan pasir, lapangan, beserta apa yang ada di atasnya adalah konsekuensi logisnya.

Jadi, yang tidak masuk akal sesungguhnya adalah perilaku kita yang terkadang seenaknya sendiri memperkosa lahan. Kita rakus menguasai dan menggunakan lahan hanya untuk kepentingan usaha atau bisnis kita, tetapi lupa memperhitungkan bahwa alam juga membutuhkan ruangan untuk menjaga keseimbangannya.

Kita sangat suka dan rajin membangun rumah, warung, toko, taman, jalan, parkiran, dan fasilitas ekonomi lainnya di lahan pantai atau bantaran sungai atau cekungan daratan. Tetapi, kita lupa atau tidak memperhitungkan bahwa air hujan juga butuh ruangan untuk mengalir dan meresap. Kalau pun ingat, kita kadang bersikap sangat pelit. Kita terkadang membuat saluran drainase di pantai hanya seukuran saluran air hujan di tritisan rumah.

Kerusakan bangunan di Pantai Ngrenehan akibat terkena banjir saat hujan deras Minggu (17/3/19). Foto: Istimewa.

“Sudahlah, gak usah repot mikirin saluran air hujan. Bikin saluran air yang kecil saja cukup, toh Gunungkidul khan wilayah pegunungan, mana mungkin mau ada banjir. Gunungkidul kebanjiran? Tidak logis itu!”

Seperti itu ungkapan yang sering terdengar. Nampaknya banyak yang lupa, bahwa kita hidup di wilayah tropis dengan ciri khasnya ada musim hujan dan musim kemarau. Justru di wilayah pegunungan ini ada bukit dan cekungan lembah. Di daerah berbukit-bukit, permukiman penduduk umumnya ada di cekungan lembah. Ini yang justru rawan tergenang ketika hujan lebat dan durasi hujannya lama.

Kemudian, ketika musim hujan kita kadang mengeluh. Kok hujannya tidak berhenti ya, selak pengen pergi ke mana, pakaian seabreg gak bisa kering, intinya hujan dianggap sangat mengganggu kegiatan. Sebaliknya, di kala kemarau panjang, kita meminta hujan sampai menangis, juga tidak lupa berdoa tiada henti meminta hujan.

Relief muka bumi kawasan Pantai Ngrenehan yang menunjukkan pantai tersebut merupakan teluk dan secara alamiah menjadi saluran air hujan alami bagi daerah tangkapan air daratan di atasnya. Menata ulang penempatan bangunan dan menyediakan saluran drainase yang memadai di tapak pantai menjadi langkah penting untuk menanggulangi bencana di kemudian hari. Peta: google-maps.

 

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.