Pembinaan Catur di Gunungkidul Berkembang, Atlet Catur GK  Memborong 3 Emas

oleh

Catur adalah permainan strategi yang dimainkan pada sebuah papan persegi yang terbagi menjadi 64 kotak, dengan 32 buah catur yang terbagi sama rata dalam kelompok warna terang (“putih”) dan gelap (“hitam”). Permainan yang sudah berkembang sejak abad ketujuh ini cukup banyak peminatnya termasuk di Gunungkidul.

Pada tanggal 18 Agustus Percasi DIY menyelenggarakan Kejuaraan Daerah Catur di Sleman. Dari Gunungkidul dikirim 30-an atlet catur yang berlaga di 9 kelas. Dua di kelas senior putra putri dan 7 di kelas yunior kelompok usia,

Bambang Sutrisno SPd sebagai ketua Percasi Gunungkidul mengungkapkan kegembiraannya saat ,” Alhamdullilah walau kita (Gunungkidul) berada di urutan ke-4 tapi hasilnya mirip dengan Kodya dan Bantul , yaitu masing-masing mendapatkan 3 medali emas. Kontingan Gunungkdul  kalah di perak karena jumlah kontingan yang relatif kecil dibandingkan dengan kontingan kabupaten lain. Hal ini mengingat tahun ini Pengkap Percasi Gunungkidul tidak menerima bantuan rutin dari KONI sehingga  seluruh dana dipusatkan untuk penyelenggaraan PORDA. Keikutsertaan Gunungkidul di ajang Kejuaraan Daerah Catur tahun 2019 ini  menghabiskan dana 7 juta rupiah sejak dari proses seleksi melalui Kejuaraan tingkat Kabupaten hingga pengiriman kontingen. Biaya terpaksa ditanggung dengan dana dari  pihak-pihak yang peduli terhadap perkemangan catur di Gunungkidul. hasil kali ini menunjukkan bahwa kekuatan catur di DIY cukup merata”.

Lebih lanjut Bambang mengatakan mengenai usaha yang terus dilakukan secara kontinyu untuk menjaga iklim olahraga catur di Gunungkidul.

“Untuk membina atlet Gunungkidul kita punya PPLPD usia dini untuk anak SD  dan Pemusatan latihan Pemain Porda. Di samping sekolah catur yg dikelola Ridwan Nursanto,MN,PN,WNP di Jeruksari Jln Taman Bakti. Sedangkan  untuk uji kemampuan Percasi Gunungkidul  menyelenggarakan turnamen bulanan dan mengirim para atlit untuk mengikuti turnamen di luar daerah”.

Gunungkidul patur berbangga karena telah melahirkan atlet catur tingkat nasional seperti Lintang Wulandari. Prestasi atlet senior ini cukup menyemangat adik-adiknya sehingga saat ini tumbuh beberapa klub catur seperti Klub Catur di Ponjong dan Wonosari. Lebih lanjut Bambang mengatakan bahwa dilihat dari minat belajar dan mengikuti turnamen, peminat catur di Gunungkidul berkembang  sangat signifikan. Bahkan banyak atlet yang berminat mengikuti turnamen berbayar. Mungkin hal ini menjadi hal baru di Gunungkidul”.

Baca juga

Para Juara Catur dari Gunungkidul

Para Master Nasional Catur berlaga di GUnungkidul

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya lahir di Gunungkidul menyelesaikan SMP di Wonosari, lalu selepas itu ke Jogja sampai lulus kuliah. Belum pernah kerja kantoran walau punya ijazah, buka usaha komputer di Wonosari. Saat ini sedang menekuni hobi menulis dan usaha di bidang kuliner, yaitu warung Kopi Angkringan Wonosari (http://gopi.link/2f274)