Pendidikan yang Nguwongke Uwong

oleh
Salah satu potret sekolah dasar di Gunungkidul tahun 2015. Proses pendidikan melampaui keterbatasan sarana dan prasarana. Foto: KH/Kandar.

Hari ini 2 Mei 2018, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional Nasional. Puncak peringatan Hari Pendidikan sesungguhnya tidak hanya dengan penyelenggaraan upacara di sekolah dan kantor. Hari pendidikan diakui atau tidak, sesungguhnya menjadi peringatan bagi seluruh anggota masyarakat.

Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik, yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai erziehung yang setara dengan educare, yaitu: membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak.

Dalam Bahasa Jawa terdapat istilah yang sepadan dengan kata pendidikan, yaitu “momong-among-ngemong“. Hal ini juga disebut demikian oleh Ki Hadjar Dewantara dalam buku Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan yang diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. Kata “momong-among-ngemong” memiliki makna yang lebih mendalam. Ia mancakup suatu proses yang lebih luas, yaitu mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yang bermakna: memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan, pendidikan mempunyai pengertian: proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.

Lebih mendalam lagi, Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan manusia yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dari memahami makna dasar tersebut di atas, maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan sesungguhnya adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam beserta lingkungannya.

Terdapat dua hal penting dalam pendidikan, yaitu aspek kognitif (berlogika) dan aspek afektif (berolah rasa dan mewujud dalam perilaku). Sebagai ilustrasi, saat kita mempelajari sesuatu maka di dalamnya tidak saja proses berpikir (berlogika) yang ambil bagian di dalamnya, tapi juga melibatkan unsur-unsur yang berkaitan dengan perasaan seperti semangat, suka dan lain-lain.

Secara substantif, Ki Hadjar Dewantara menegaskan, bahwa pendidikan adalah upaya membebaskan manusia. Driyarkara juga menyebutkan, bahwa pendidikan adalah suatu upaya memanusiakan manusia (nguwongke uwong). Jelas, bahwa pendidikan bukan semata mengurus dan menonjolkan aspek kognitif saja, bukan sekadar kesuksesan pelaksanaan UNBK (ujian nasional berbasis komputer), bukan sekadar mencetak siswa dengan prestasi nilai ujian yang melejit, dan seterusnya.

Di luar pencetakan prestasi akademik yang saat ini senantiasa diagung-agungkan itu, sesungguhnya upaya membebaskan manusia dari keterkungkungan diri, memanusiakan manusia, serta cinta bangsa dan negara tak kalah penting untuk senantiasa menjadi bagian dari proses pendidikan.

Bagaimana proses pendidikan yang kita lakukan? Mari kita renungkan bersama.

 

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.