Penyakit Antraks: Mengenali, Mengobati, dan Pencegahannya

oleh
Siklus penyebaran bakteri antraks. Dok: sapibagus,com.

Baru-baru ini diberitakan adanya wabah penyakit antraks yang menyerang hewan ternak di wilayah Gunungkidul. Sedikitnya sudah 5 hewan ternak sapi di wilayah Kecamatan Karangmojo yang mati diduga terkena wabah antrak. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul juga telah bergerak cepat untuk menanggulangi wabah penyakit ternak ini.

Sapi Gunungkidul Mati Postitif Terkena Antraks, Ratusan Ternak Disuntik Antibiotik

Semua pihak tentu tidak ingin terjebak pada situasi panik yang justru menimbulkan dampak yang tidak diinginkan semua pihak. Karena itu, menjadi lebih bermanfaaat adalah mengenali lebih mendalam gejala penyakit yang menyerang hewan dan dapat menyerang manusia ini, sehingga dapat melakukan langkah pengobatan dan upaya preventif penanggulanganya.

Penyakit antraks adalah suatu penyakit akut disertai demam yang ditandai dengan bakteriemia yang bersifat terminal pada kebanyakan spesies hewan. Penyebab antraks adalah bacillus anthracis. Bakteri ini bersifat zoonosis, yang berarti dapat ditularkan pada manusia. Bakteri penyebab penyakit antraks ini dapat membentuk spora dan bertahan dalam tanah untuk waktu yang sangat lama. Hal inilah yang seringkali menyebabkan suatu daerah menjadi endemik.

Penyakit yang ditimbulkan oleh Bacillus anthracis yaitu antraks kulit,  saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan dapat sampai ke otak yang disebut antraks otak atau meningitis. Antraks kulit terjadi karena disebabkan infeksi pada kulit sehingga spora Bacillus anthracis dapat masuk melalui kulit. Antraks saluran pencernaan yang disebabkan karena spora Bacillus anthracis yang terbawa oleh makanan yang telah terinfeksi dan sampai ke saluran pencernaan. Antraks saluran pencernaan yang disebabkan karena spora Bacillus anthracis yang terhirup.

Gejala Penyakit Antraks Pada Hewan

  1. Perakut (sangat cepat) terjadi sangat mendadak dan segera mengikuti kematian, sesak napas, gemetar, kemudian hewan rebah kadang terdapat gejala kejang. Pada sapi kambing dan domba mungkin terjadi kematian yang mendadak tanpa menimbulkan gejala penyakit terlebih dahulu.
  2. Bersifat akut (cepat) pada sapi, kambing, domba dan kuda : demam (suhu tubuh mencapai 41,5 derajat Celcius), gelisah, sesak napas, kejang, dan diikuti kematian, kadang sesaat sebelum kematian keluar darah kehitaman yang tidak membeku dari lubang kumlo (lubang hidung, mulut, telinga, anus dan alat kelamin). Pada kuda dapat terjadi nyeri perut (kolik), diare berdarah, bengkak daerah leher dada, perut bagian bawah dan alat kelamin bagian luar.

Siklus Hidup Penyakit Antraks

Bacillus antracis penyebab penyakit antraks mempunyai dua bentuk siklus hidup, yaitu fase vegetatif dan fase spora.

1. Fase Vegetatif

Berbentuk batang, berukuran panjang 1-8 mikrometer, lebar 1-1,5 mikrometer. Jika spora antraks memasuki tubuh inang (manusia atau hewan memamah biak) atau keadaan lingkungan yang memungkinkan spora segera berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian memasuki fase berkembang biak.

Sebelum inangnya mati, sejumlah besar bentuk vegetatif bakteri antraks memenuhi darah. Bentuk vegetatif biasa keluar dari dalam tubuh melalui pendarahan di hidung, mulut, anus, atau pendarahan lainnya. Ketika inangnya mati dan oksigen tidak tersedia lagi di darah bentuk vegetatif itu memasuki fase tertidur (dorman/tidak aktif).

Jika kemudian dalam fase tertidur itu terjadi kontak dengan oksigen di udara bebas, bakteri antraks membentuk spora (prosesnya disebut sporulasi). Pada fase ini juga dikaitkan dengan penyebaran antraks melalui serangga, yang akan membawa bakteri dari satu inang ke inang lainnya sehingga terjadi penularan antraks kulit, akan tetapi hal tersebut masih harus diteliti lebih lanjut.

2. Fase Spora

Berbentuk seperti bola golf, berukuran 1-1,5 mikrometer. Selama fase ini bakteri dalam keadaan tidak aktif (dorman), menunggu hingga dapat berubah kembali menjadi bentuk vegetatif dan memasuki inangnya. Hal ini dapat terjadi karena daya tahan spora antraks yang tinggi untuk melewati kondisi tak ramah–termasuk panas, radiasi ultraviolet dan ionisasi, tekanan tinggi, dan sterilisasi dengan senyawa kimia.

Hal itu terjadi ketika spora menempel pada kulit inang yang terluka, termakan, atau–karena ukurannya yang sangat kecil–terhirup. Begitu spora antraks memasuki tubuh inang, spora itu berubah ke bentuk vegetatif.

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.