Perseteruan Di Medsos Memprihatinkan, Preseden Buruk Gagi Generasi Penerus

oleh
ilustrasi pertikaian di medsos. foto: istimewa.

Bagi pengguna media sosial yang cukup aktif dapat dipastikan akan menemui perseteruan antar kubu. Kubu yang saling berbeda mengenai pandangan politik dan kenegaraan, berbeda aliran dan mahdzab keagamaan, serta berbeda dalam menanggapi isu-isu nasional yang muncul.

Masalahnya, Pada kelompok masyarakat tertentu perseteruan yang terjadi tak sebatas adu argumentasi dengan mengedepankan akal sehat yang dapat diterima secara rasional. Tetapi adu argumentasi berlanjut saling hujat, menghina satu sama lain, melontarkan ujaran kebencian hingga tidak jarang saling fitnah pun dilakukan.

Hal ini membuat sejumlah pihak prihatin, tak terkecuali dari kalangan pemuda di tingkat daerah. Seperti yang diungkapkan Ketua II Karangtaruna Kecamatan Ngawen, Angga Wicaksana Hanung Pradana. Dirinya mengaku gelisah dengan pertikaian yang berkecamuk di media sosial. Sebabnya cukup beralasan, tidak jarang pergolakan pecah gara-gara saling ejek di media sosial.

“Memang memiliki banyak nilai positif, tetapi kemajuan teknologi informasi juga membuka arena untuk saling bermusuhan,” ujar Angga Wicaksana, Selasa, (22/5/2018).

Besarnya risiko negatif bagi masyarakat tak dianggap remeh. Sebagaimana diketahui belum lama ini pemerintah sempat mewacanakan memblokir facebook. Hal tersebut sebagai reaksi atas ancaman serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurut Angga, juga ada gerakan ‘truth claim‘ (klaim atas kebenaran agama) melalui berbagai tulisan provokatif dan menebar kebencian di dunia maya, terutama di media sosial. Hal tersebut sungguh mengancam kerukunan di atas fakta adanya keberagaman.

Selain itu, bahaya media sosial lainnya yakni dapat terpaparnya masyarakat dengan paham radikalisme jika tidak diantisipasi dengan serius.

Dengan masifnya ‘perang’ berebut benar yang semakin memuncak tersebut Angga mengajak masyarakat khususnya kalangan pemuda lebih arif dan bijak dalam bersikap. Tidak terpancing ikut satu kelompok dan memusuhi yang lain. Meningkatkan toleransi dan mengakui adanya keberagamaan.

“Masyarakat luas sebenarnya sudah sangat berpengalaman dengan adanya perbedaan. Jangan sampai generasi penerus mendapat contoh dan mewarisi ketidakharmonisan ini,” Harapnya.

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.