Pohon Gayam Menjadi Pelindung Mata Air

oleh
Pohon gayam. Foto: Area Petani.

Gayam (inocarpus fagiferus) adalah pohon buah yang memang tidak begitu popular di mata masyarakat, sebab jika ingin memakan buah Gayam  harus dimasak dulu. Berbeda dengan buah lainnya yang bisa langsung dimakan segar begitu dipetik  dari  pohon, buah  gayam  harus  dimasak  dulu,  baik dengan cara direbus, dibakar, atau diolah dengan cara lainnya.

Kayu pohon gayam dapat dimanfaatkan sebagai bahan mebel. Sedangkan sifat kerindangan daun dan dahannya, maka pohon ini bisa dimanfaatkan sebagai pohon peneduh yang sangat baik.

Wilayah persebaran pohon gayam meliput Jawa-Madura, Bali, dan Kalimantan. Gayam mampu tumbuh pada lahan mulai dari ketinggian 0-500 mdpl. Saat ini, pohon gayam masih dapat ditemukan di daerah sekitar tepian sungai atau sumber-sumber air. Tumbuhan ini mampu tumbuh di tanah-tanah yang miskin hara sekalipun.

Tanaman Penjaga Sumber Air

Gayam adalah salah satu jenis pohon yang mendapat rekomendasi dari tim inventarisasi Balitek DAS (Balai Litbang Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian LHK) sebagai tanaman pelindung sumber air. Selain sebagai pohon buah, gayam diketahui memiliki kemampuan sebagai pelindung air. Jenis pohon ini termasuk dalam famili Fabaceae, merupakan jenis tanaman konservasi air yang dapat menyimpan dan mendekatkan air ke permukaan tanah.

Kriteria jenis pohon gayam dipilih sebagai pelindung air merupakan jenis yang mampu memberikan pengaruh dalam pengisian air tanah (intersepsi dan infiltrasi). Jenis ini juga mampu mengendalikan penguapan (evapotransprasi dan evaporasi) dan memberikan pengaruh dalam penyerapan aquifer.

Selain memiliki kemampuan sebagai pelindung air, gayam mampu meningkatkan kesuburan tanah. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan meubel. Buah pohon gayam juga dapat dijadikan produk olahan, seperti emping atau keripik gayam. Keripik gayam dapat menjadi peluang bisnis makanan yang belum banyak pesaingnya.

Buah gayam. Foto: satuharapan.

Air merupakan sumber kehidupan yang tak terkecuali manusia. Karena itu, menjadi sangat penting menjaga keberadaan serta menjaga ketersediaan air. Perlindungan sumber-sumber air di Gunungkidul, seperti belik atau mata air, sungai-sungai kecil, tandon-tandon air hujan alami seperti telaga atau ledokan tanah, termasuk embung (tandon air buatan) memang perlu dilakukan, jika  tidak ingin krisis atau bencana kekurangan air menghampiri kita di masa yang akan datang.

Dengan mengetahui karakteristik pohon gayam yang mampu sebagai pelindung mata air, maka upaya konservasi dan budidaya vegetasi ini bisa lakukan sekaligus sebagai langkah konservasi sumber-sumber air di Gunungkidul.

Ironisnya, tanaman gayam ini memang semakin jarang ditemukan di wilayah Gunungkidul. Bahkan jenis-jenis tanaman pelindung air lainnya pun makin jarang ditemui di dekat-dekat sumber air. Yang sering dijumpai di pinggir sungai, telaga atau embung, justru pohon relatif baru ditanam, seperti munggur, akasia, atau pucuk merah.

Keyakinan Tradisional tentang Pohon Gayam

Menurut cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat Jawa,  kata “gayam”  berarti  “gayuh ayem”,  yang bermakna mencari kedamaian. Kata “ga” berasal dari kata gayuh yang artinya mencari, sedangkan potongan kata atau suku kata terakhirnya “yam” sebagai simbolisasi rasa “ayem, tenteram, tenang”.

Di sisi lain, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pohon gayam yang rindang dan kokoh ini sebagai tempat tinggalnya setan atau makhluk halus. Akibatnya tanaman ini sering dibabat tanpa ampun, padahal kerindangan dan manfaatnya bagi konservasi air sangat diperlukan.

Dari sisi kenampakannya, tanaman gayam ini memang mampu memberikan aura rasa ayem ‘tenteram, tenang’. Secara turun-temurun, masyarakat juga meyakini tanaman gayam dipercaya sebagai pohon yang dapat menyimpan/mendekatkan air ke permukaan tanah sehingga air jernih mudah didapatkan di sekitar pohon tersebut. Hal ini sesungguhnya selaras dengan hasil penelitian para ahli, yang mana menunjukkan bahwa sifat-sifat tanaman gayam memang mampu menjadi tanaman konservasi air.

Ketersediaan air sepanjang musim sesungguhnya memang membawa ketenangan dan kesejahteraan bagi manusia. Di samping tentu  saja,  daunnya  yang  selalu  lebat  memberikan  rasa  teduh  dan  suasana  tenang  di sekitarnya.

Keyakinan masyarakat tradisional terhadap manfaat tanaman gayam sebenarnya juga dapat dilacak dengan diabadikannya nama tanaman tersebut sebagai nama tempat. Contohnya ada nama Kampung Gayam atau jalan Gayam di Kota Yogyakarta, ada nama Sumur Gayam di sebuah dusun di Gunungkidul, ada desa Gayamharjo di Prambahan, dan penggunaan nama gayam lainnya untuk nama desa atau kecamatan di beberapa daerah lainnya.

Klasifikasi tanaman gayam (inocarpus fagiferus):

  • Kerajaan : Plantae;
  • Subkerajaan : Tracheobionta;
  • Super Divisi : Spermatophyta;
  • Divisi : Magnoliophyta;
  • Kelas : Magnoliopsida;
  • Sub Kelas : Rosidae;
  • Ordo  : Fabales  ;
  • Famili  : Fabaceae;
  • Genus  : Inocarpus;
  • Spesies  :  Inocarpus fagiferus (Parkinson) Fosberg.
  • Sinonim : Inocarpus fagifer (Parkinson) Fosb., Inocarpus edulis J.R. & G. Forster, Aniotum fagiferum Parkinson, Bocoa edulis (J. R. Forst. & G. Forst.) Baill., Cajanus edulis (J. R. Forst. & G. Forst.) Kuntze.

****

Referensi: forda-mof.org

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.