Reog untuk Penyembuhan

oleh
Grup reog di sebuah dusun yang ditanggap warga untuk menghibur anggota keluarga yang sedang sakit. Foto: Tugi/Swara.
Grup reog di sebuah dusun yang ditanggap warga untuk beber di halaman rumah guna menghibur anggota keluarga yang tidak bisa ikut rasulan di balai dusun karena sedang sakit. Foto: Tugi/Swara.

Selepas menunaikan ritual merti dusun pada Selasa Wage bulan Agustus lalu (7/8/18), rombongan Reog Mega Budaya Dusun Ngringin diboyong Mbah Adi Ngiso ke rumahnya. Mereka dimohon kembali untuk beber di pekarangan rumah Mbah Ngiso. Ujub Mbah Ngiso adalah menghadirkan hiburan teruntuk istrinya yang tidak bisa mengikuti rasulan karena sudah beberapa lama sakit.

“Maturnuwun Mas, kersa rawuh. Mangga, mirsani beber reog. Mugi-mugi Gusti ngijabahi dados dados tamba, Mbah Putri saged dhangan kados wingi uni,” ujar Mbah Ngiso, ketika aku salami sebelum pertunjukan dimulai.

Mbah wedok Adi Ngiso (pakai kursi roda) diapit para sanak-saudara menikmati pertunjukan reog. Foto: Tugi/Swara.

Reog memang bukanlah sendratari konsumsi kelas bangsawan atau priyayi yang glamour, yang dasar teorinya sulit, ndakik-ndakik, dan tarian halus yang mereknya adiluhung.

Reog adalah pertunjukan kelas rakyat. Bebunyian gamelannya ya gitu-gitu saja. Tariannya sederhana gitu-gitu saja. Namun, begitu bendhe ditabuh, kendhang dhodhog dikeplak, bunyi-bunyian sederhana itu membuat jantung bergetar bagi siapapun yang telah mengenal reog sejak kanak-kanak. Kaki dan tangan mulai bergerak ritmis, dan selanjutnya ikut menari dengan rasa bebas merdeka.

Kemerdekaan dan kenikmatan reog itu bisa menari bebas, bergerak, berjingkrak-jingkrak, bahkan kadang dianggap ora logis atau “ndadi” (trance). Reog mampu menjadi wahana kelepasan, mengeluarkan kegalauan. Reog menjadi wahana perjumpaan kemerdekaan yang sejenak di tengah keteraturan rutinitas kehidupan yang kadang membosankan, membuat lelah sampai mengerang kesakitan.

Kemerdekaan pertunjukan reog untuk bisa menari secara bebas dan mengekspresikan tekanan jiwa. Foto: Tugi/Swara.

Tetangga dan sanak-saudara sore itu semua datang ke rumah Mbah Ngiso. Mereka bersalam sapa dengan Mbah Wedok yang duduk di atas kursi roda. Semua larut dalam kegembiraan sembari menikmati beber reog. Di tengah gemuruh tetabuhan dan derai tawa, sempat kulihat Mbah Ngiso putri yang meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan. Tetapi air mata kegembiraan karena semua larut dalam kegembiraan, guyub rukun, dan senang susah bersama. Dan kegembiraan hati itulah yang menjadi obat yang tiada tara.

Para tetangga yang rata-rata berusia lanjut ikut menikmati kegembiraan tanggapan beber reog. Foto: Tugi/Swara.

Memang, Mbah Adi Ngiso belum pernah kenal dengan Aaron T Beck, apalagi membaca tesis Cognivite Behavioral Therapy (terapi perilaku berpikir). Namun, apa yang dilakukan petani tangguh ini luar biasa hebat. Apa yang dilakukan demi kesembuhan istrinya ini senyatanya memang 11-12 dengan teori Beck dalam CBT itu. Reog telah menjadi terapi jiwa untuk kesembuhan yang paripurna.

Cogito ergo sum. Sehat atau waras itu juga dimulai dari cara berpikir kita.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.