Revitalisasi Dolanan Gerit-Gerit Lancung dan Goco

oleh
Pelestarian dolanan tradisional Gerit-Gerit Lancung di Pundungsari Semin. Swara/Kandar.

SEMIN, (Swara). Untuk menggiatkan kembali potensi seni dan budaya warisan leluhur, salah satunya adalah dolanan tradisional, UPT Taman Budaya Yogyakarta Dinas Kebudayaan DIY bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul melaksanakan kegiatan Revitalisasi Dolanan Tradisional di Padukuhan Sedono Desa Pundungsari Semin Gunungkidul pada Rabu (9/5/18). Dolanan tradisional yang menjadi obyek revitalisasi adalah Dolanan Tradisional Gerit-gerit Lancung dan Goco.

Dalam sambutan acara, Ketua UPT Taman Budaya Yogyakarta Eni Lestari menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang ada di DIY, sehingga jangan sampai diakui oleh negara lain.

Ke depan, dolanan tradisional yang menjadi warisan leluhur tersebut dapat dijaga dan tetap dilestarikan oleh warga masyarakat. Juga dapat ditularkan pada anak-anak dan generasi muda, sehingga tidak punah di tengah kemajuan ilmu dan teknologi modern.

Menurut Tumi (85), salah satu tetua warga masyarakat Padukuhan Sedono, dolanan tradisional tersebut sewaktu ia masih kecil merupakan salah satu dolanan yang sering dimainkan oleh orang tua dan anak-anak pada saat malam bulan purnama. Cara bermain dolanan tersebut ia dapatkan dari orang tua dan neneknya, sehingga diperkirakan usia dolanan Gerit-gerit Lancung dan Goco diperkirakan lebih dari seratus tahun.

“Dahulu, dolanan tradisional Gerit-gerit Lancung sering dimainkan oleh kaum ibu, karena dolanan tersebut merupakan sindiran kepada para suami yang tidak mengenal waktu bermain judi, sehingga sering menghabiskan harta bendanya. Sedangkan dolanan Goco merupakan dolanan yang dimainkan sebagai wujud syukur kepada Tuhan karena telah sembuh dari suatu penyakit, ” ujar Kahono, Ketua Paguyuban Pelestari Budaya “Sekar Cempaka Mulya” Padukuhan Sedono Desa Pundungsari Semin.

Kegiatan Revitalisasi Dolanan Tradisional Gerit-gerit Lancung dan Goco ini dikemas dalam bentuk seni pertunjukan Kethoprak Lesung. Dibuat demikian, dengan maksud agar dolanan tradisional tersebut dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat.

Para pemain atau peraga dalam pertunjukan ini mayoritas merupakan warga masyarakat Padukuhan Sedono yang secara keseharian adalah para petani. (Kandar).

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.