Sebenarnya Apa dan Siapa Priyayi Itu?

oleh
Penthul dan Tembem, sosok batur atau abdi dalam pertunjukan reog gagrak Gunungkidul. Kehadirannya senantiasa dirindukan para penonton. Ibu-ibu di perdesaan pasti meminta padanya untuk mengelap anaknya dengan selendang tokoh batur ini. | JJW

Celoteh tentang priyayi ini terdorong dari pengalaman pribadi memperoleh “satu tanda heran ke satu tanda heran lainnya”, manakala saya ngabyuk ikut kegiatan suatu komunitas, tepatnya paguyuban daerah asal tempat lahir dan juga ketika ikut dalam komunitas keagamaan.

Dua organisasi yang berbeda isi dan latar belakang, tetapi ternyata setelah ikut terlibat lhadalah kok ya tetap ada saja kemiripan situasi. Apa itu yang mirip? Ternyata sama-sama melahirkan adanya kelas manusia bernama priyayi. Sebuah kelas manajer, kelas binnenlands bestuur yang tentu saja elite karena semua anggota pasti mengenal, menghormati, dan mayoritas klepek-klepek tunduk kepada kelas ini. Bahkan kelas ini terkadang diidentifikasi atau mengidentifikasi diri menjadi pihak yang tak tersentuh, terbebas dari kesalahan.

Di sisi lain, tetap saja ada bagian kelas ngisoran atau bala dhupak. Pokoknya sendika dhawuh, siap sorak-sorak hore atau siap-siap ribut apabila sang priyayi para pangarsa ngersakke. Kelas yang terkadang di-akali baik secara terang-terangan atau secara halus atau super halus sampai benar-benar tidak merasa bahwa dirinya itu sebenarnya di-akali.

Mbah Cliford Geertz pernah membukukan hasil penelitiannya di Madjakuta Jombang yang diberi judul Santri, Abangan dan Priyayi. Sepertinya itu juga menjadi referensi yang berguna dalam melihat kondisi umum masyarakat Jawa, utamanya relasi kehidupan sosial kemasyarakatan berdasarkan kedudukan atau struktur sosial anggota masyarakat yang mempengaruhi peranan dan tingkah lakunya dalam relasi sosial.

Sakjane apakah dan siapakah priyayi itu? Para trahing kusuma rembesing madu kah? Alim ulama kah? Politisi kah? Birokrat kah, guru kah, jaksa kah, hakim kah, mantri kah, polisi kah, tentara kah, pengusaha kah? Wong sing sugih di desa atau di perantauan kah? Barangkali, siapapun akan bebas mempergunakan definisi priyayi itu seperti apa dan yang bagaimana. Ya, karena bergantung keyakinan diri terhadap definisi dan manfaat yang diperoleh dari definisi tersebut.

Apa dan siapa sesungguh priyayi itu? Ada jlentrehan non akademik Mbah Umar Kayam yang membuat pemahaman jadi terang benderang tentang hal itu. Itu lewat cerita fiksinya di buku Para Priyayi terbitan Pustaka Utama Grafiti (tahun terbit 1992).

Mbah Umar Kayam bercerita tentang keluarga Soedarsono dan istrinya Aisyah. Soedarsono anak petani desa. Di bawah asuhan Ndoro Seten (Asisten Wedana) di sebuah tempat di Jawa Timur, Soedarsono berkesempatan mendapat pendidikan yang baik, yang membawa dirinya diangkat menjadi seorang guru desa oleh pemerintah waktu itu. Ia menjadi orang terpandang, karena apa yang dikerjakan dan tingkah lakunya mampu menjadi rujukan bagi warga desa. Soedarsono berganti nama menjadi Sastrodarsono, pergantian yang umum dilakukan dalam tradisi Jawa ketika seseorang memasuki usia sepuh.

Sastrodarsono memiliki 4 anak bernama Noegroho, Hardojo, Soemini, dan Harimurti. Sastrodarsono hidup dalam 3 jaman, jaman Gupernemen Hindia Belanda, jaman Jepang, dan jaman Republik Indonesia. Keempat anak Sastrodarsono memperoleh pendidikan yang bagus dan mendapatkan pekerjaan yang tidak baen-baen. Noegroho berkarir menjadi perwira militer, Hardojo menjadi abdi dalem Mangkunegaran, Soemini menjadi istri pejabat kementerian, dan yang agak sial nasibnya adalah anak yang tercerdas Harimurti. Kondisinya sempat terseok-seok gara-gara ia menjadi aktivis Lekra.

Di keluarga itu juga ikut seorang anak desa bernama Lantip. Ia ngenger urip di keluarga Sastrodarsono sejak kecil. Lantip tumbuh dan berkembang dengan baik karena disekolahkan sama seperti anak-anak Sastrodarsono lainnya. Asal usul Lantip adalah anak seorang bakul tempe dari desa yang ditinggal suaminya yang hilang entah kemana, kemudian ia dipupu sebagai anak oleh Sastrodarsono.

Dalam kehidupan alam masyarakat desa, keluarga Sastrodarsono adalah orang yang terpandang. Dari anak seorang petani desa, Sastrodarsono mampu memperoleh kehidupan dan kedudukan yang terhormat di masyarakat. Itu karena peranannya sebagai guru desa, karena perilakunya baik terhadap semua orang, sehingga ia menjadi panutan masyarakat desa, karena anak-anaknya semua dadi uwong di tempatnya masing-masing. Karena itulah, masyarakat memandang Sastrodarsono itu sebagai priyayi. Ya, sebagai priyayi, meskipun jika ditelisik termasuk priyayi rendahan, karena ke-priyayian-nya itu bukan given sebagaimana kaum bangsawan yang melekat sebagai priyayi karena garis keturunan secara genetis.

Bagian yang sangat menarik dari buku itu adalah cerita tentang apa dan siapa sesungguhnya disebut priyayi itu. Ini bisa disimak pada dialog bagian akhir buku ini saat upacara pemakaman Sastrodarsono.

Anak-anak Sastrodarsono berunding, siapa di antara mereka yang akan memberikan sambutan perpisahan. Apakah Noegroho yang tentara, apakah Hardojo yang jadi birokrat di Mangkunegaran, apakah Soemini yang istri seorang birokrat di sebuah Kementerian, apakah Harimurti? Ternyata mereka justru menunjuk Lantip, bocah desa yang jadi bagian keluarga besar Sastrodarsono. Ini bagian akhir dialog tersebut:

Calon yang lebih pantas dan paling besar jasanya buat keluarga besar kita. Dialah orang yang paling ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih berbakti kepada kita semua. Dialah priyayi yang sesungguhnya lebih daripada kita semua. Dia adalah kakang Lantip.” Jelas Harimurti meyakinkan yang lain saat menunjuk Lantip sebagai pembaca pidato selamat jalan di pemakaman Eyang Kakung Sastro Darsono.

Kemudian, dialog lain yang mengajak berhenti sejenak dan merenung adalah dialog Lantip dengan pakde-nya sesaat setelah selesai pemakaman:

Kalau menurut kamu, apa arti kata priyayi itu, Tip?” “Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting bagi saya.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.