Sebuah Diskusi Tentang Bahagia

oleh
Dua anak bermain bahagia. foto: Heru Tricahyanto.

Di suatu sore yang cerah saat beberapa anak muda duduk beralaskan tikar di pojok alun-alun pemda. Sore yang cerah tidak terlalu gerah sehingga nyaman untuk duduk ngobrol sana sini sambil menghisap rokok dan bicara ngalor ngidul.

 

Ada sebuah pembicaraan  yang hangat diantara mereka.
A: Aku baru bisa bahagia kalo orang tuaku belikan aku motor CB150.
B: Kalau  aku ndak segitunya…cukup bisa jadian sama si doi aku dah senang.
C: kalau  aku baru bahagia klo orang tuaku bebaskan aku bermain…
D: Kalian itu…klo aku sih bahagia klo bisa berprestasi…

Nampaknya setiap orang perlu suatu alasan untuk merasakan kebahagiaan. Ada suatu syarat tertentu bila ingin dirinya bahagia. Syarat itu bisa berupa benda, barang atau materi lainnya. Ada juga yang akan merasa bahagia setelah perasaannya dicukupkan oleh seseorang misalnya dicintai atau diperhatikan seseorang. Prestasi juga sering menjadi syarat sehingga orang itu pantas merasa bahagia.  Bila ditelaah lebih jauh syarat-syarat tersebut adalah sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Barang, diterima cintanya, atau prestasi, atau kebebasan yang diberikan oleh orang lain. Karena berasal dari luar diri kita maka kita akan merasa tidak atau kurang bahagia bila syarat tersebut belum kita miliki atau kuasai.  Sebagai gantinya muncul perasaan cemas, cemburu, iri hati dengki atau karena ingin “memburu” kebahagiaan itu kita bisa jadi “ngongso” dalam bekerja agar lekas bisa membeli ini itu yang kita inginkan. Maka kita lihat dan alami setiap hari di sekeliling kita banyak orang yang sakit fisik atau menjadi pemarah, dan mereka itu jelas tidak bahagia.

Lalu bagaimana? Ada suatu ilustrasi sedikit. Suatu ketika, ada seorang anak muda yang selalu sedih, hidup dalam kemiskinan, kesepian dan sebatang kara. Ia berusaha mencari jawaban akan kebahagiaan, namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan orang tua berusia 80 tahun yang hidup sendirian bersama pelayannya. Istrinya sudah meninggal 10 tahun lalu. Bukan hanya tua dan sendirian, ia juga buta dan hanya bisa duduk di kursi roda karena lumpuh.

Anak muda ini melihat orang tua tersebut selalu tersenyum dan sinar wajahnya terlihat bahagia walaupun keadaannya seperti itu. Karena penasaran, anak muda ini bertanya padanya bagaimana ia bisa tetap bahagia meski buta dan tak bisa berjalan.

Orang tua tersebut menjawab, “Aku bahagia karena aku memilih untuk bahagia. Kebahagiaan itu adalah keputusan. Tidak peduli apakah Anda sedih atau bahagia, yang penting aku bisa memutuskan untuk sedih atau bahagia. Dan aku memilih untuk bahagia.

Aku bahagia karena aku memilih untuk bahagia. Sebetulnya tidak ada syarat untuk menjadi bahagia karena semua diri kita yang menentukan. Syarat-syarat itu menurut penulis lebih sebagai pelarian atau alasan yang dicari-cari. Atau bisa jadi syarat-syarat tadi dikendalikan oleh nafsu diri kita. Maka jika ada yang menunggu bahagia setelah punya mobil, rumah, istri cantik atau setelah punya anak seringkali kecewa karena setelah itu semua diraih ada hal lain lagi yang muncul sebagai syarat bahagia.

Kebahagiaan adalah suatu keputusan dalam dalam diri kita. Ini juga berarti bahwa sebetulnya keadaan diri kita sudah memiliki “bahagia” tersebut tinggal pikiran kita yang perlu memanggilnya dengan membuat keputusan. Kebahagiaan adalah suatu perasaan mental tetapi untuk membangkitkan memerlukan keputusan rasio. Dan kita tidak usah terlalu cemas dengan segala sesuatu di luar diri kita.

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).