Sekolah Favorit

oleh
SMAN 1 Wonosari, salah satu sekolah favorit di Gunungkidul. Foto: Kemdikbud.

Memasuki tahun ajaran baru orangtua dibuat pusing oleh aturan baru yang namanya zonasi. Pemerintah sendiri dalam kebijakannya juga sering berubah dalam hal pengaturan PPDB dengan sistem zonasi, sehingga wajar orangtua siswa menjadi bertanya tanya. Orangtua sudah menjadi korban stigma sekolah favorit, walaupun pemerintah sendiri tak pernah membuat kebijakan tentang sekolah favorit.

Sekolah favorit itu lahir melalui proses panjang dan tidak ujug-ujug. Butuh perjuangan keras, para guru dan stake holder sekolah, sehingga menghasilkan sekolah yang berkualitas sering disebut sekolah favorit. Kebanyakan yang diberi predikat sekolah favorit adalah sekolah lama, lulusannya nilainya bagus-bagus, banyak diterima di universitas negeri atau bekerja di instansi pemerintah yang keren.

Maka wajarlah orangtua punya cita-cita agar anaknya bisa sekolah di sekolah favorit tersebut. Tetapi kenapa pemerintah nampaknya alergi dengan istilah sekolah favorit sekarang ini? Sehingga sebagai upaya untuk menghilangkan julukan sekolah favorit maka pemerintah menerapkan sistem zonasi dan meniadakan kompetisi dalam penerimaan peserta didik baru. Nilai UN tak lagi diperhitungkan, tetapi UN tetap dipertahankan. Masuk perguruan tinggi tak ada zonasi tapi kompetisi bebas. Kebijakan ini ternyata membuat anak dan orangtua sudah dibuat frustasi dari awal.

Dengan sistem zonasi, tak ada lagi kebanggaan terhadap almamater, karena kebanggaannya telah direnggut sistem zonasi. Dulu ada kebanggaan anak desa bisa masuk sekolah X dan Y di kota. Nah sekarang anak desa harus tetap sekolah di desa tak bisa sekolah di kota sesuai pilihan, karena pilihannya telah dirampas oleh pemerintah.

Alih alih untuk menghapus predikat sekolah favorit kondisi sekolah yang berada di desa dan kawasan pinggiran jelas fasilitasnya masih sangat terbatas. Guna mendukung kebijakan sistem zonasi seyogyanya segera diikuti penyediaan fasilitas bagus, guru-guru yang bagus, akses transportasi bagus, dll. Realitanya memang belum tentu anak-anak lulusan sekolah favorit bisa melanjutkan atau bisa sukses setelah bekerja nantinya, karena tak sedikit juga anak-anak yang bersekolah di sekolah dengan fasilitas terbatas malah menjadi orang sukses.

Sekolah yang dibutuhkan anak sekarang ini sejatinya adalah sekolah yang dapat menumbuhkan pribadi bahagia dan mandiri pada anak didik dalam menghadapi tantangan zamannya, yang bukan zaman kita. Nah, itu biasanya ada pada sekolah yang sudah lama atau orang menyebut sekolah favorit.

Tantangan pemerintah adalah mendorong agar semua sekolah mampu menciptakan, menumbuhkembangkan pribadi bahagia dan mandiri dalam menghadapi tantangan zaman.

***

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Saat ini menjadi anggota DPRD DIY. Aktivis dalam bidang pertanian dan juga aktif berdiskusi dalam media sosial.