Sereng Layung: Memahami Siklus Perubahan Alam

oleh
Suasana perdesaan saat cuaca cerah di zone Wonosari Basin (Ledok Wonosari). Dok: KH

“Rahayu-slamet jagad lan sak-isi-ne/sak-isin-e”

‘Nguda-rasa’ bab kosmologi itu selalu aktual. Faktual. Meski pendek. Tak ‘layung’ (baca: panjang). Bagaimana tidak: alam ‘tiba-tiba’ bisa sangat ‘sereng’ (galak) dan ‘plethek’ (bercahaya) serta ‘cumorong’ (silau-terang), namun tak selang berapa lama bisa sangat ‘layung’ (tangis, sengsara) dan ‘ima-ima’ (mendung). Kali bisa amat ‘lon’ (lambat) dan gemulai alirnya (seperti Oya yang mengalun-pelan menuju ke tempat berkumpulnya ‘jlantah’ bumi: samudera, melawati Imogiri), ‘ujug-ujug’ bisa sangat ‘banter’ (cepat) dan ‘raksasa’ (besar) nan mengerikan.

Hadirnya ‘kekuwung’ (pelangi: jalannya hujan) bisa sangat indah di mata: curah hujan cukup, pertanian berhasil, atau sebaliknya: pralaya! pertanian gagal. Supra-struktur rusak. Kembang Cempaka bisa sangat indah di lagunya Ki Nartasabda, bisa pasangannya: buruk-rupa! Bisa Uma, bisa Durga. Begitu halnya manusia (kula). Begitu halnya kulawangsa manusia di lemah bumi manapun. Begitu halnya kulawangsa manusia Gunungkidul (Nusantara).

Alam ‘mendua’. Alam ‘campuh’, campur. Kulawangsa manusia: ‘sumereng’, serta ‘nglayung’.

Kita, kulawangsa-kulawangsa di Nusantara, adalah kulawangsa A(ng)suman, atau Rawi, atau Srengenge. Kita adalah ras ‘raditya’ atau ‘radite’ atau ‘ra’. Kita: ras Srengenge (ras yang penuh semangat, terjaga, melek): ‘eling lan waspada’. Kita adalah ras ‘arkais’: berkeringat oleh panas Sang Arka. Keringat kita yang beraroma tropika keluar dari pori-pori karena posisi tubuh kita (geografis) sangat dekat dengan Arka/Srengenge (equator), menyebabkan ‘teles-kebles’: hujan-tropis. Kaya ’embun’. ‘Hudan adres mudal’ (hujan deras membuncah) dari kamandhanu. Kita ‘adus-kringet’ berbudaya agro. Tubuh, nalar, dan jiwa kita adalah Srengenge. Sorot Srengenge kuat. Tajam. Merahnya dunia manusia (arcapada) adalah ‘kastuba’; merahnya Srengenge.

Gebyar cahaya peradaban manusia (golden-era) adalah ‘arkamaya’; cahaya Srengenge. Cara kita menapaki laku-hidup pun laksana laku Srengenge; para anak yang mencontoh perilaku ‘bapaknya’ (‘arkasuta’); para jabang-bayi yang baru saja ‘mijil’ ke dunia langsung ‘ngawu-awu sudarma’; mencari Sang Ayah: ‘dhedhe’ di bawah Sang Suryaja (‘plethek-srengenge’ pagi hari). Para raja/presiden (‘pati’) adalah simbolisme Srengenge bagi para kawula. Para kulawangsa/rakyat. Penanggalan kulawangsa manusia adalah Srengenge. Panji-panji kita adalah Srengenge.

Logos(entrisme) kita adalah Srengenge (matahari). Serta: Kartika (bintang). Rembulan (bulan). Kisma/Lemah (bumi). Tirta/Banyu (air). Bayu/Maruta (angin). Agni (api).

Dalam siklus perkawinan bintang dan rembulan, matahari dan bumi, aura Srengenge berjumpa dengan aura Tirta (Kamadhanu): mereka ‘awor-winor’, bergaul satu dengan yang lain (‘senggama’). Bertempur (seperti Oya dan Opak). Muncul lah keringat panas dan dingin. Embun muncul di permukaan kulit (‘lemah; tala). Satu ‘malumah’, satu ‘mangkurep’. Keringat bumi, karena aksi/pengaruh panas Srengenge dan dingin air, ada yang bergerak menempati kedalaman bumi, ada yang di gunung-gunung, di rahim goa-goa, ada yang di cakrawala, ada yang tinggal-berkumpul di jalanidhi (samudera).

Alur dan alir Tirta/air dikuatkan oleh aura Bayu bertempur dengan aura Srengenge (panas): lahir ‘maruta’, bersatunya yang dua. Persatuan keduanya (maruta) sangat menakutkan. Bantala (dasaran) goyang. Goncang. Keringat menumpuk. Air membuncah. Kali-kali meluap. Merintih. Melenguh.

Mengaduh.

Tak begitu lama sebelumnya, para pikniker-tempat-wisata, para pendaki-giri, para penyusur-pantai-goa, dan para ‘pemburu-matahari’ di pucuk arga, mencari-cari (sementara beberapa kelompok orang mencari-cari hakekat ilmu pengetahuan; beberapa manusia suci mencari-cari hakekat Tuhan) suasana alam Gunungkidul yang indah-indah; terutama karena tubuh Gunungkidul memang sedang ‘mlethek’ atau ‘sumorot’ atau ‘sumemi’ (bersemi) akhir-akhir ini (rara; kanya).

Mereka merindukan Srengenge di pantai dan di gunung, yang mencapai puncak keindahan di kedua ujung hari (‘ari’): pagi dan sore. Di kedua ujung ini Srengenge menyala. Nyalanya cahaya-agni (api). Sorot. Di Timur dan di Barat. ‘Bang-bang wetan’ dan ‘bang-bang kulon’. ‘Kala-plethek’ dan ‘kala-sendhe’. ‘Sunrise’ dan ‘sunset’. Pagi yang cerah adalah saat ketika Sang Urub atau Bagaskara (baca: nyala-api/’urub’yang menjadikan kuat) atau Bagaspati (ratunya-terang) terbangun penuh semangat, bekerja giat ‘nenandur’ di awal musim, ‘plethek’; sore adalah saat ketika Sang Surya menuju lemah, menuju ‘ngaso’, memperbaiki diri, tertidur/tenggelam: ‘surup’.

‘Urub’nya Gunungkidul (semangat-hidupnya; terangnya) digantikan ‘surup’ (termasuki gelap).

‘Surem’ (suram). Srengenge ‘rem’; pejam.

Gunungkidul sedang menjelma ‘imagiri’: gunung yang mendung, suram wajahnya, pejam matanya. Dan Oya pun sedang bercinta membanjiri Imogiri di ujung sana. Toh kepekatan dan kegelapan, sebagai pasangan kecerahan dan keterangan, selalu mencoba melakukan tindak: ‘memperbarui’ jagad; ‘nganyarake donya’ (metakosmosis). Mendung, gelap, suram, pejam, selalu ikut ‘cawe-cawe’ melahirkan ‘stabilitas’ kosmos.

Gunungkidul (dan wilayah Nusantara lain) kali ini adalah seumpama laku Srengenge (matahari), laku Bayu/Maruta (angin), laku We/Mega/Banyu (air), laku Kisma (tanah), yang ‘sereng’ dan ‘mlethek’; tajam, galak, bercahaya keemasan, seindah ‘kekuwung’ (pelangi) yang ‘malengkung’ (melengkung), sekaligus ‘nglayung’; sedih, pucat, penuh mendung, yang sedang dibarukan. Kita sedang dinasehati Si Bapa agar ‘tangi’ (‘sereng’, bangun) dan terjaga (‘melek’/literal), serta diemban-emban Si Biyung supaya merasa nyaman.

Digelontori ‘banyu-susu’ (sindu) yang ‘udal-udalan’. Yang kebanyakan. E, lha kok ‘pating-clepret’ di jalan-jalan.

***

[Wage]

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya