Sparing Partner

oleh
Ilustrasi.

Seorang teman yang telah sukses di ibukota menceritakan hal ini kepada saya. Pada suatu waktu ia harus memberikan training di Bandung, ia sendiri tinggal di Jakarta. Karena acara dimulai  siang jam 13.00, ia berangkat sekitar jam 09.00 dari tempat tinggalnya. Estimasi waktu 3 jam untuk mengantisipasi jalanan macet. Karena tidak ada sopir ia kendarai sendiri mobilnya. Di belakangnya terlihat mobil lain yang keren sepertinya seri BMW terbaru yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Mobil tersebut tidak langsung mendahului kendaraannya, namun menunggu saat yang aman.  Jika belum memungkinkan mendahului BMW ambil jalur ke kiri kemudian baru masuk ke jalur kanan.

Iseng-iseng ikuti cara menyetir dengan membuntuti di belakangnya. Setelah jalur kanan aman mobil itu baru mendahului mobil lainnya, begitu seterusnya. Tanpa sadar teman tersebut menengok panel kecepatan sudah mencapai 140km/jam. Padahal biasaya bisa 100 saja sudah terasa sangat cepat. Ternyata saat membuntuti mobil yang melaju lebih cepat ia tanpa sadar bisa mencapai batas kecepatan yang lebih tinggi.

Jika kita tarik ke kehidupan kita cerita tadi bisa menjadi refleksi. Seringkali kita sudah merasa mentok dengan segala upaya yang berdarah-darah dan bersimbah keringat.  Rasanya tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik. Namun ternyata jika kita memiliki mitra atau partner yang lebih hebat, kita terpacu untuk melakukan hal yang lebih hebat dan lebih baik.

Siapakah mitra atau sparing partner dalam hidupmu? Pertanyaan ini hanya bisa kita jawab sendiri. Siapakah mitra dalam hidup berkeluargaku, sehingga memang benar-benar berarti yang memandu untuk mencapai hidup yang lebih baik. Apakah pasanganku sudah menjadi mitra yang terbaik? Lalu sebaliknya bisa kita balik pertanyaannya:apakah aku sudah menjadi mitra yang bisa memacu pasanganku menjadi lebih baik?

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).