Sugeng Riyanto: Penyintas Bunuh Diri yang Tangguh Menapak Masa Depan
Sugeng Riyanto penyintas bunuh diri yang tangguh menapak masa depan. Dok: BBC Indonesia.

Sugeng Riyanto adalah salah satu pemuda yang tangguh dan tegar menapaki jalan rumit kehidupan. Ia mampu melampaui peristiwa demi peristiwa perih kehidupan. Pertengahan 2016 lalu, ia mampu mengurai jerat tali gantung diri yang seketika sempat ia lakukan manakala mengalami kegamangan situasi.

Dukungan dan kepedulian sanak keluarga dan para tetangga terdekat sangat membantu Sugeng dalam menghadapi peristiwa besar yang menggoncang kehidupan itu. Bagaimanapun, sangat jelas bahwa perjuangan hidup anak muda berusia 28 tahun ini tak semudah dan seindah kata-kata para motivator populer dalam siaran TV atau media sosial.

Jujur, peristiwa bunuh diri di Gunungkidul sudah sejak lama dibayangi cerita tentang “pulung gantung”.  Sampai kini masih ada yang menganggap dan meyakini cerita tutur ini menjadi penyebab bunuh diri, sehingga permasalahan riil yang sesungguhnya melingkupi korban tak pernah tersentuh dan terabaikan. Permasalahan riil terkait erat dengan aspek psikologis itu sesungguhnya nyata terjadi dalam kehidupan.

Testimoni singkat Sugeng Riyanto, pemuda warga Padukuhan Grogol VI Desa Bejiharjo Karangmojo Gunungkidul ini mampu menyingkap tabir penutup bunuh diri yang terjadi selama ini. Bahwa bunuh diri sesungguhnya dapat dicegah dengan kejujuran, penerimaan diri, membutuhkan pertolongan dan menerima uluran pertolongan penopang hidup satu sama lain.

Peristiwa berat yang dialami Sugeng Riyanto tak membuatnya terus terpuruk. Ia berani dan tangguh menapak masa depan. Dengan sikap sumarah, Sugeng mau berbagi kisah pengalaman tentang apa yang dialaminya. Melalui berbagi kisah, ia ingin mengajak untuk saling tolong-menolong. Ia menekankan, bahwa bunuh diri sesungguhnya dapat dicegah.

Saat ini, Sugeng Riyanto bekerja sebagai perangkat desa di Desa Bejiharjo. Di tengah-tengah kesibukannya melayani masyarakat sebagai staf Seksi Pelayanan, ia juga dipasrahi tanggung jawab menjadi pengelola content website desa. Ia bekerja dengan penuh kegembiraan, tak ada perangkat desa lainnya yang menjadi rekan kerja dan warga desa yang mengejek atau mempermasalahkan peristiwa berat yang menimpa dirinya sebagai aib keluarga atau masyarakat.

Memang sudah saatnya semua pihak perlu mengubah paradigma bunuh diri. Cara memandang peristiwa bunuh diri sebagai sebuah “kejahatan moral” dan sejenisnya itu sekadar menjadi program kegiatan penghakiman terhadap sesama. Dalam alam bawah sadar semakin melegitimasi semangat “sapa sira sapa ingsun”. Menyuburkan stigma (pandangan buruk), dan justru tak akan membantu proses pemulihan para penyintas dan keluarga terdampak bunuh diri.

“Setiap orang yang memiliki masalah hari ini, cerita pada teman, saudara, keluarga, untuk dapatkan solusi dan bantuan, jangan dipendam sendiri, karena masalah yang dipendam, akan menjadi titik dimana kita akan kehilangan segalanya,” kata Sugeng kepada BBC Indonesia, medio Agustus 2017 lalu.

Simak reportase jurnalis BBC Indonesia di Gunungkidul dalam vlog berikut:

Facebook Comments
Bagikan melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Tugi Widi
News Reporter
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.