Tips dan Trik Sukses Berbicara di Depan Publik

oleh
Pertemuan kecil dalam ruang kelas pun butuh persiapan agar berlangsung sukses. Dok: Kandar.

Pernahkah Anda merasa takut dan cemas ketika diminta berbicara di depan kelas, perkumpulan pemuda, pertemuan keluarga, pertemuan komunitas, pertemuan di balai desa, dan pertemuan lainnya? Apa yang terjadi atau Anda lakukan dan sampaikan pada saat itu?

Rasa takut dan cemas ketika berbicara atau menjadi pembicara di depan publik merupakan hal yang lumrah. Apalagi di sebuah pertemuan besar di mana dihadiri para pejabat, cerdik cendekia, dan orang-orang penting. Namun, sesungguhnya tidak ada permasalahan yang tak dapat dipecahkan, kecuali malas berpikir dan berusaha.

Yang Harus Dipahami Lebih Dulu

Rasa takut dan cemas yang sering kali membuat kita gugup ketika kita hendak berbicara kepada orang atau di depan publik merupakan gejala alami manusia. Setiap manusia mengalami hal itu. Gejala yang muncul bisa bermacam-macam: bibir kering, perut mual, keringat dingin, lutut gemetar, detak jantung makin berdebar-debar, dan macam-macam lagi. Setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda-beda.

Rasa takut dan cemas seperti itu sebaiknya dianggap sebagai sesuatu yang positif saja. Karena hal ini menandakan bahwa dalam diri kita ada kesadaran, bahwa tidak semua hal itu terjadi secara rutin. Selain itu, rasa takut dan cemas memberi tanda pada kita bahwa kita tidak menilai diri sendiri lebih dari yang sebenarnya. Kita berada dalam sikap realistis. Di lain pihak, rasa takut dan cemas justru menandakan bahwa orang memiliki kesadaran akan keberhasilan. Rasa takut dan cemas bukan menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan tidak bisa atau tidak sanggup.

Rasa takut dan cemas sebelum berpidato (atau bicara di depan umum) tidak bisa dilenyapkan sama sekali. Ini sesungguhnya sama halnya dengan cinta yang tulus, yang tak bisa lepas dari perasaan curiga dan was-was. Namun seseorang yang pandai berbicara di depan umum dapat mengatasi rasa takut dan cemas itu, sehingga tidak lagi menjadi beban yang melumpuhkan baginya. Rasa takut dan cemas itu sebagai aba-aba supaya orang dapat mencapai hasil yang lebih baik lagi.

Bila orang tidak memiliki rasa takut dan cemas, maka mudah sekali ia menjadi orang yang sombong, takabur, tanpa perasaan, terlalu menganggap diri hebat. Ia juga akan kurang mempedulikan situasi dan kebutuhan pendengarnya. Justru di sanalah terletak bahaya kegagalan dalam berpidato.

Dengan demikian rasa takut dan cemas menjadi “peringatan” bagi kita supaya kita mempersiapkan lebih sungguh-sungguh lagi sebelum tampil berpidato/bicara di depan umum. Rasa takut dan cemas mengajarkan pada kita akan sikap rendah hati. Kerendahan hati menjadi sikap dasar, spirit bagi public speaker karena dia menjadi pusat perhatian bagi banyak orang. Demikianlah, rasa takut serta cemas telah “mengajarkan kebaikan” pada kita, bukan?

Duduk Persoalannya

Meskipun setiap orang mengalami, baik pembicara kelas pemula maupun kelas wahid, namun setiap orang mempunyai cara dan sikap yang berbeda-beda untuk mengatasi rasa takut dan cemas.

Pertanyaannya, bagaimana mengatasi (bukan menghilangkan) rasa takut dan cemas sebelum maupun pada saat kita berbicara di depan umum?

Kita mesti mengetahui terlebih dahulu alasan orang merasa takut dan cemas sebelum tampil:

  • Takut ditertawakan
  • Takut dimarahi jika salah
  • Takut  mengecewakan pendengar
  • Takut mendapat kritik
  • Takut terjadi hambatan di tengah proses
  • Takut dengan bayangan publik yang lebih pintar
  • Takut kehilangan muka
  • Takut mengungkapkan pendapat yang hanya diwakili oleh kelompok minoritas
  • Takut ………. dan lain-lain, setiap orang bisa berbeda-beda alasannya.

Dengan kita mengetahui alasan-alasan tersebut, maka hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya:

1.Persiapan yang Teliti

Yang penting adalah persiapan yang teliti. Ada pendapat ahli yang mangatakan “jika kita telah melakukan persiapan dan perencanaan yang serius, maka kita telah meraih keberhasilan 95%.” Selebihnya yang 5% adalah kenyataan yang akan dihadapi.

2. Hafalkan dan Kuasai Kalimat Pertama dan Terakhir

Kalimat pertama dan terakhir harus dihafal dan sangat kita kuasai. Oleh karena itu selama kita berpidato/tampil berbicara perlu sekali:

  • Membina kontak mata dengan pendengar
  • Menganggap pendengar sebagai kawan (sederejat), bukan lawan
  • Mengembangkan pikiran positif **)
  • Buatlah jeda di tengah pembicaraan
  • Ingatlah selalu kalimat ini: SAYA HARUS! SAYA MAU! SAYA SANGGUP!
  • Dalam hal ini pepatah orang Cina sangat tepat: satu perjalanan yang 1000 kilometer jauhnya, mulai juga dengan langkah pertama.

**) Pikiran positif pada orang lain (yang menjadi pendengar kita):

  • Mereka/pendengar tidak akan mentertawakan kita, mereka akan mendengarkan pendapat kita.
  • Pendengar tidak menentang kita! Mereka datang hanya untuk mendengar ceramah kita. Kalau tidak mereka pasti tidak akan hadir.

**) Pikiran positif pada diri sendiri:

  • Jika terjadi hambatan kecil selama proses kita berbicara, usahakan jangan langsung gusar, tetaplah menenangkan diri, caranya: bersikaplah bahwa kita sedang “menyatu” dengan diri sendiri, tidak akan menyalahkan siapa pun (termasuk diri sendiri). Terimalah diri kita apa adanya.
  • Jika terjadi kegagalan pula, anggaplah tidak terlalu tragis karena hidup kita tidak akan “musnah” hanya karena kegagalan itu.
  • Kegagalan hendaknya dianggap sebagai kemenangan yang   tertunda.

 Jadi tidak perlu khawatir lagi dengan perasaan takut dan cemas dalam diri kita. Ingatlah bahwa segala keberhasilan di dalam hidup ini, selalu didahului oleh rasa cemas dan takut.

Sekadar berbagi pengalaman. Kadang kala saya memulai pembicaraan (di depan umum), dengan membawakan cerita sebagai ilustrasi awal atau cerita anekdot yang lain. Tujuannya: meraih perhatian pendengar dan mengurangi rasa takut dan cemas saya. Dengan begini saya bisa melepaskan nafas/udara awal dalam diri saya yang begitu membebani. Lalu saya bisa bernafas dan bicara dengan leluasa.

Ini hanya salah satu tips dan trick! Tips dan trik yang lain dapat Anda kembangkan sendiri.

***

Sumber: FX Tri Mulyono, Studio Audio Visual PUSKAT – Yogyakarta.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya