Tips Mengatasi Kecemasan Sosial Akibat Whatsapp (WA)

oleh
ilustrasi. gambar: istimewa

Tidak hanya Power Ranger yang berubah, Siapapun pun disadari atau tidak juga berubah. Masalahnya, perubahan tersebut menjadikan kondisi semakin baik atau justru sebaliknya. Perubahan diakibatkan salah satunya adanya kemajuan IT. Sebut saja karena Whatsapp (WA).

Pernahkah merasakan hidup terasa tak lengkap tanpa menengok WA? Atau, bahkan merasa terusik dengan banyaknya pesan melalui WA?

Seolah tak ada ruang untuk sembunyi. Belum lagi dilanda perasaan bersalah dan cemas bila tidak ber say hallo di grup, lantas dianggap seolah menjadi makhluk anti sosial.

Menurut Psikiater RSUD Wonosari, dr. Ida Rochmawati, Sp. KJ, tidak bisa dipungkiri teknologi WA seperti pisau bermata dua. Satu sisi memudahkan siapapun untuk berkoneksi, menjalin silaturahmi bahkan bisa menjadi peluang ekonomi bagi yang menggunakan.

Namun di sisi lain WA bisa menciptakan ketergantungan bahkan menimbulkan kecemasan sosial terutama bila sudah tergabung kedalam sebuah grup. Tidak sedikit pula dapat memunculkan adanya konflik antar anggota group.

Menurut Ida, Fenomena psikologis tersebut disebut sebagai fear and missing out. Berupa rasa takut ditinggalkan, tidak mendapatkan informasi, dan tidak menjadi bagian dari suatu kelompok.

Tentu tidak serta merta harus membuat hidup ini “steril” tanpa WA. “Toh faktanya kita hidup di era media sosial, namun semua itu bisa diantisipasi sedini mungkin agar kita tidak dilanda kecemasan sosial,” terag Ida.

Berikut tips yang diberikan dokter spesialis kejiwaan tersebut :

  1. Buat aturan untuk diri sendiri yang menyamankanmu. Misal WA akan diaktifkan pada jam- jam tertentu atau bila diperlukan.
  2. Utamakan dirimu dan abaikan prasangkamu bahwa orang lain berpendapat buruk tentangmu bila tidak aktif di grup. Toh yang paling tahu diri sendiri adalah kita sendiri. Jangan biarkan hidup kita disetir oleh pendapat orang tentang kita.
  3. Jadilah asertif. Bila ada satu atau hal lain hal yang membuatmu tidak bisa aktif di grup, katakan terus terang terlepas pandangan orang tentangmu.
  4. Berfikir positif baik pada diri sendiri dan orang lain. Setiap orang punya latar belakang situasi dan kondisi yang berbeda. Tidak perlu merasa bersalah jika tidak aktif atau keluar dari grup. Sebaiknya tetap “pamit” meski kadang kita diinvite tanpa persetujuan kita.
  5. Ambil energi positif dari hubungan sosial. Jangan gampang tersinggung alias baper-an dan tetap harus move on.

Ida mengajak tetap jalin silaturahmi dan tetap bahagia dengan atau tanpa WA. Sebab, bahagia tidak dicari tetapi diputuskan.

Tentang Penulis: Kandar KH

Kandar KH
Menulis di Kabarhandayani. Senang berbagi catatan perjalanan.