Wisata Goa: Bisakah Menjadi Perjalanan Menemukenali Diri?
Pohon apak di mulut goa Gebang Tinatar Panggang. Swara/Wage.

Pada saat ini banyak goa di Gunungkidul masuk dalam daftar yang dicari oleh kalangan luas sebagai tempat tujuan wisata, entah sekadar melancong jalan-jalan sampai dengan perjalanan serius meneliti sesuatu menyibak kejadian di masa lalu dari sisa-sisa artefak yang tertinggal. Sementara, di kalangan lebih kecil di jaman kini dan di jaman dahulu, banyak goa di Gunungkidul yang dicari sebagai tempat mencari ‘sangkan paran‘.

Jika disapu dengan pandangan mata sekilas, goa memang tampak bukan goa. Ia hanya organ alam seperti organ lain. Goa hanyalah suatu tempat ‘biasa’, yang sama fungsinya dengan rumah. Goa sepintas hanya berupa alas tegalan, karena mulut guwa berada di bawah, tertutupi rimbun pepohonan. Kadang-kadang goa berada di bawah sebuah gunung. Setelah mendekat kepadanya, baru tampak bahwa itu sebuah goa, bahwa di tengah mulutnya terdapat pohon besar menjulang tinggi; satu buah, dua buah.

Pohon di depan mulut gua laksana raksasa yang begitu indah. Pemandangan ini membuat para pelancong takjub. “Oh… beginilah kuasa Gusti Pangeran menciptakan keindahan goa.”

Setelah kita menuruni sebuah goa dengan menggunakan tangga atau tali, bahkan harus mengecilkan badan karena pintu masuk goa yang sangat sempit seperti di Guwa Rancang Kencana, maka akan tertemui ruangan bawah batu karst yang longgar, yang besar, eyub, bersih meski tak disapu saban hari.

Duduk sejenak di dalam goa karst menjadikan tubuh penuh kesegaran. Udara goa yang bersih ‘sumusup’ (menelusup) hingga ke ‘pulung-ati’ (jantung), mampu ‘mberat’ (mengusir) segala kesedihan.

Menyapukan pandangan ke atas guwa tampak ‘rerenggan’ (bentukan) batu yang tertata oleh kodrat alam. Ada yang berbentuk candi, ada yang berbentuk arca gajah, ada yang berupa arca ‘kendhi’ atau ‘gendhong’, dan aneka rupa bentuk benda sakral lain yang dilekati ‘mitos’ tertentu oleh masyarakat lokal kepadanya.

Batu-batu kapur di langit-langit guwa yang terteteskan terus berebut tinggi rendah satu dengan lainnya, menambah keasrian goa. Air lah yang ‘tan kendhat’ membawa dan menjadikan Si Batu Gamping menjadi arca-arca. Arca-arca halus tubuhnya, dibalut rembes air.

Pada waktu mitis tertentu, arca-arca di goa yang adalah stalaktit dan stalagmit ditabuhi: dihadirkan lah suara ‘adam’ (suara asali) alam raya: ‘gentha kekeleng’. Berkolaborasi dengan suara tetes air yang tiada pernah putus.

Wisata-goa di goa-goa Gunungkidul (Gunung Sewu) di masa kini, dalam korelasi paradoksi, secara terus-menerus menemani, mengoposisi, dan melengkapi gerak kembali para tokoh suci Gunungkidul yang di waktu-waktu purwa telah lebih dulu melakonkan-hidupnya menelusuri kedalaman goa-garba Gunungkidul.

Dua-duanya wisata, dua-duanya pariwisata. Dua-duanya laku berpuasa: ‘mulih myang mulanya’; seperti apa yang kala-kali ini dicoba dilakukan oleh dulur-dulur Muslim pada waktu bulan ‘ramadhan’ (baca: bulan pembakaran) yang berhubungan dengan laku-tubuh (‘among-raga’) dan laku-rohani (‘among-suksma’), bergerak menuju ‘sangkan’ dan parannya.

Keduanya menggandrungi, bahkan dengan penuh antusias dan impulsif, apa yang dirasakan sebagai kebahagiaan dan kedamaian. Puncak penikmatan organik (pantang makan-minum di waktu tersibaknya matahari atau sebaliknya berpesta makan-minum di waktu tertutupinya matahari), intelektualitas, dan rasa-pangrasa tubuh-jiwa manusia sekaligus tubuh-jiwa alam (‘saresmi’, ‘nedhak-nyungging’; ‘jouissance’), yang mau tak mau terkadang membentur tembok kegaiban-kemisteriusan tanpa tepi (‘wadi’) hingga aksi semacam ini ingin dilakukan berulang-kali.

Keduanya, di pekat dan gelapnya guwa-guwa, secara ‘positif’ mencoba ‘nggebangi’ (menyingkiri, menghindari) keakuannya, kecemasannya, kesendiriannya, ketidakkuasaannya, ketakutannya akan ‘kegelapan’, kekotorannya, kemunafikannya, kesombongannya serta keserbaterbatasaannya sendiri, untuk menggapai tataran yang oleh kulawangsa manusia dikategorikan sebagai keindahan (‘kalangenan’) yang lebih tinggi (‘tinatar’), yaitu sebentuk ‘pulung’ atau ‘wahyu’ pencerahan dengan takarannya ‘sowang-sowang’ bagi setiap pelaku-pribadi.

Kebahagiaan dan kedamaian itu (‘amukswa’), tanpa henti, mengucur dari gu(h)wa yang ‘tan kena kinaya ngapa’ kedalamannya. Yang alur dan alir airnya berujung pada dan bermula dari: waudadi-jalanidhi. Jalanidhi Gunungkitul sisi selatan: Bumi Atasangin.

Ya, kebahagiaan dan kedamaian (itu) dengan mengolah angin.

“Amoring dat lan raseku,
ingaran wadi lan mani,
tumiba ing guwa garba,
acampuh kalawan madi,
yeku rahsaning wanita,
kumpule dadi sawiji”.
[Kinanthi, Sastrajendra]

[Wage]

Facebook Comments
Bagikan melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
News Reporter